Puasa berarti menahan diri. Selama satu bulan penuh, umat Islam menahan diri dari makanan, minuman, atau hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Selain itu, saat puasa juga harusnya menjaga pandangan dan ucapan, sehingga puasanya menjadi berkah.
Selama Ramadan, banyak orang yang berlomba-lomba beribadah, mulai dari bertadarus, tarawih, itikaf, berzikir, hingga memperbanyak salat sunnah.
Namun, banyak juga amalan-amalan ini tak lagi dikerjakan setelah ramadan berlalu. Padahal, puasa harusnya menempah orang menjadi pribadi yang lebih baik dan terus konsisten mengerjakan kebaikan.
"Jadi, memang puasa Ramadan yang kita lakukan satu bulan ini harus berdampak pada 11 bulan ke depan," kata Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muzakkir dalam program kultum detikSumut, Senin (9/3/2026).
Muzakkir mengatakan ada perbedaan antara shiyam dengan shaum yang keduanya sama-sama berarti menahan. Kalau shiyam, kata Muzakkir, berarti puasa hanya sebatas menahan tiga hal, yaitu makan, minum dan berhubungan suami istri. Sementara shaum berarti tidak hanya menahan ketiga hal tadi, tapi juga menjaga panca inderanya, nafsu, dan juga hati.
"Maka, kalau shiyam secara syariat hanya ada di bulan Ramadan, tapi shaum sepanjang hidup," jelasnya.
Oleh karena itu, kata Muzakkir, baiknya amalan yang dikerjakan selama Ramadan tetap diteruskan, bahkan ditingkatkan setelah puasa Ramadan berlalu. Hal tersebut juga akan berdampak pada kesehatan mental seseorang.
"Maka mentalitas yang sehat, kalau dia berpuasa Ramadan, tidak sekadar shiyam, tapi dia sudah menuju shaum, puasa lahir dan batinnya," pungkasnya.
Simak Video "Video: Bolehkah Membatalkan Puasa karena Pekerjaan Terlalu Berat?"
(nkm/nkm)