7 Jenis Pindang di Sumsel, Tiap Daerah Punya Ciri Khas dan Cita Rasa Unik

7 Jenis Pindang di Sumsel, Tiap Daerah Punya Ciri Khas dan Cita Rasa Unik

Melati Putri Arsika - detikSumbagsel
Kamis, 17 Sep 2026 06:00 WIB
pindang patin
Ilustrasi pindang Sumsel. (Foto: detikfood)
Palembang -

Masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) dari berbagai kabupaten dan kota memiliki olahan cita rasa pindang yang beragam. Kuliner khas tersebut menjadi makanan favorit saat ada acara besar maupun hidangan sehari-hari. Sudahkah detikers mengetahui jenis-jenis pindang di Sumsel?

Berdasarkan laman Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Kemendikbudristek, istilah "pindang" merujuk pada metode pengolahan makanan tradisional dengan cara direbus bersama bumbu khas yang identik dengan rasa asam, pedas, dan segar. Kuliner ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sumsel.

Secara historis, keberadaan pindang di Sumsel tidak lepas dari letak geografisnya yang dialiri sembilan sungai besar atau yang dikenal sebagai Sungai Batanghari Sembilan. Dahulu, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai mengandalkan hasil tangkapan ikan sungai seperti patin, baung, dan gabus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cara Memasak Pindang

Teknik memasak pindang muncul sebagai bentuk kearifan lokal untuk menghilangkan aroma amis ikan sungai. Oleh karena itu, masyarakat memanfaatkan rempah daun dan buah-buahan berasa asam yang tumbuh di pinggiran sungai.

Seiring berjalannya waktu, teknik ini berevolusi menjadi identitas khas dari wilayah masing-masing, mulai dari wilayah Meranjat di Ogan Ilir hingga Musi Rawas di bagian barat provinsi.

7 Jenis Pindang di Sumsel

1. Pindang Pegagan

Pindang Pegagan berasal dari suku Pegagan di wilayah Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pindang ini memiliki filosofi kesederhanaan, namun menuntut ketelitian tinggi dalam pengolahannya.

Kuah pindang ini memiliki ciri khas warna merah menyala tetapi terlihat jernih. Warna tersebut didapatkan dari cabai merah yang dihaluskan secara sempurna. Tekstur kuah pindang lebih encer, tidak berminyak, dan memberikan kesan bersih saat dipandang.

Pindang Pegagan sama sekali tidak menggunakan proses penumisan. Semua bumbu dimasukkan langsung ke dalam air yang sudah mendidih. Teknik merebus langsung ini memastikan agar kuah tetap jernih, encer, dan bebas dari lemak tambahan minyak goreng.

Bumbu-bumbu yang digiling halus meliputi bawang merah, bawang putih, cabai merah, kunyit, jahe, dan terasi. Rasa asam pada pindang didapat dari air asam jawa. Bahan tersebut memberikan sensasi rasa yang lebih tajam dan bersih, tanpa campuran rasa manis buah.

Secara visual, hidangan ini menyajikan perpaduan ikan dengan kuah merah jernih. Pindang Pegagan sangat cocok disantap bagi Anda yang menginginkan cita rasa segar, ringan, dan tidak meninggalkan rasa mual setelah dimakan.

2. Pindang Meranjat

Jika berkunjung ke Sumsel dan mencicipi pindang dengan aroma yang sangat harum serta rasa yang menggugah lidah, besar kemungkinan hidangan tersebut adalah Pindang Meranjat.

Pindang Meranjat berasal dari Desa Meranjat, Indralaya Selatan, Kabupaten Ogan Ilir. Pindang ini dapat dikatakan sebagai varian yang paling kaya bumbu dan penuh karakter.

Masyarakat Meranjat dikenal memiliki tradisi kuliner yang kuat dan diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini terlihat dari cara mereka mencampurkan bumbu yang jauh lebih kompleks dibandingkan masyarakat Pegagan.

Kunci utama Pindang Meranjat terletak pada proses pengolahan bumbunya yang wajib ditumis. Bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, cabai merah, cabai rawit burung, jahe, dan kunyit digoreng dengan sedikit minyak hingga mengeluarkan aroma harum menyengat.

Proses penumisan bertujuan mematangkan bumbu serta melarutkan pigmen cabai sehingga kuahnya tampak merah pekat dan sedikit berminyak.

Penentu rasa gurih dari Pindang Meranjat adalah penggunaan terasi atau belacan. Terasi yang digunakan biasanya dibakar terlebih dahulu sebelum dihaluskan bersama bumbu lainnya.

Aroma terasi yang kuat memberikan rasa umami sebagai penyeimbang rasa pedas. Selain itu, tambahan potongan nanas memberikan sensasi asam menyegarkan sekaligus melembutkan serat-serat daging ikan sungai. Sebagai penyempurna rasa, diberikan tambahan daun kemangi yang wajib ada.

3. Pindang Musi Rawas

Bergeser ke Kabupaten Musi Rawas, di wilayah ini detikers akan menemukan varian pindang yang cukup kontras dengan versi Pegagan. Pindang Musi Rawas adalah potret kekayaan rempah wilayah pegunungan yang berpadu dengan hasil sungai.

Pindang khas daerah ini memiliki identitas warna yang berbeda, yaitu kuning keemasan. Warna ini berasal dari penggunaan kunyit yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan pindang di daerah Ogan.

Selain itu, rempah seperti serai, daun salam, dan lengkuas digunakan cukup banyak untuk memberikan aroma yang menggugah selera. Keunikan lain dari Pindang Musi Rawas adalah penggunaan tomat ranti, jenis tomat kecil bergelombang yang memiliki kadar keasaman alami yang segar.

Tomat ini dimasukkan dalam jumlah banyak dan dibiarkan sedikit hancur di dalam kuah, sehingga memberikan tekstur kuah yang sedikit lebih kental dan cita rasa manis-asam yang unik. Rasa pedasnya cenderung lebih lembut dibandingkan versi Meranjat, namun gurih rempahnya bertahan lebih lama di lidah.

4. Pindang Tempoyak

Tempoyak adalah olahan hasil fermentasi daging buah durian yang memiliki cita rasa asam, manis, dan gurih yang berpadu sempurna. Olahan ini menjadi bahan utama dalam pembuatan Pindang Tempoyak.

Hampir sama dengan pindang pada umumnya, bahan-bahan yang digunakan meliputi ikan patin, kunyit, serai, cabai merah giling, gula, garam, penyedap rasa, daun kemangi, dan tempoyak. Cara memasaknya cukup dengan memanaskan air, lalu memasukkan bumbu yang telah dihaluskan.

Setelah bumbu dimasukkan, tambahkan tempoyak sesuai selera, kemudian masukkan ikan patin. Masak sampai mendidih, lalu masukkan daun kemangi sebagai pelengkap terakhir.

Cita rasa asam, pedas, dan gurih yang kuat menjadi ciri khas dari Pindang Tempoyak. Perpaduan aroma durian fermentasi serta rempah serai, kunyit, dan daun-daunan menyatu secara sempurna.

5. Pindang Tulang

Selain kaya akan kuliner berbahan dasar ikan, Sumsel juga terkenal dengan Pindang Tulang. Pindang ini dibuat menggunakan bahan utama bagian iga sapi yang dimasak perlahan agar tekstur dagingnya menjadi lembut.

Perbedaannya dengan pindang ikan, Pindang Tulang biasanya memiliki warna kuah yang lebih gelap serta cita rasa asam dan pedas yang terbilang kuat. Untuk membuat kuliner ini, masyarakat tidak menggunakan daging utuh, melainkan potongan tulang sapi yang masih terdapat sisa daging. Hidangan ini sering ditemukan di warung makan maupun acara besar seperti Hari Raya Idulfitri.

6. Pindang Serani

Masyarakat Sumsel di Kota Pagar Alam dan Kabupaten Lahat lebih akrab dengan Pindang Serani yang bumbunya dipotong atau diiris. Ciri khas lainnya terletak pada kuahnya yang berwarna bening agak kekuningan, bukan merah pekat.

Secara istilah, bumbu serani menggunakan campuran serai, kunyit, jahe, dan daun salam. Pindang Serani memadukan olahan ikan sungai dengan rempah-rempah yang menghasilkan cita rasa unik, yakni perpaduan asam, pedas, dan manis yang segar.

7. Pindang Salai

Salai merupakan olahan ikan khas Sumsel yang diproses melalui cara pengasapan untuk memberikan aroma khas dan rasa yang kuat. Setelah diasapi, beberapa masyarakat juga mengeringkannya di bawah terik matahari agar dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Umumnya, ikan salai dimasak menjadi pindang. Cita rasa gurih, asin, pedas, dan asam menjadikannya primadona di beberapa kabupaten, seperti Ogan Ilir, Musi Banyuasin (Muba), dan Muara Enim. Menu ini biasa dijumpai sebagai hidangan harian di rumah maupun jamuan saat acara keluarga.

Itulah 7 jenis pindang di Sumsel yang dapat menjadi pilihan destinasi kuliner saat berkunjung ke provinsi ini. Selamat mencoba, ya!

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Melihat Kondisi Sentra Produksi Pindang Salem di Tasikagung Rembang"
[Gambas:Video 20detik] (mep/mep)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads