Sumatera Selatan

Serupa Tapi Tak Sama, Perbedaan Pindang Pegagan dan Meranjat

Rhessya Putri Wulandari Tri Maris - detikSumbagsel
Minggu, 04 Jan 2026 08:00 WIB
Ilustrasi pindang (Foto: Getty Images/Elwimina Nurjanah)
Palembang -

Sumatera Selatan tidak hanya terkenal dengan pempek Pempek. Jika detikers berkunjung ke Bumi Sriwijaya, ada satu hidangan wajib yang melambangkan kekayaan sungai dan rempah-rempahnya, yaitu pindang.

Melansir data dari Direktorat Perlindungan Kebudayaan, Pindang di Sumatera Selatan telah resmi tercatat dan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Di antara banyaknya variasi pindang yang ada, dua nama selalu menjadi perdebatan menarik bagi para pencinta kuliner, Pindang Pegagan dan Pindang Meranjat.

Meski memiliki bentuk yang sama, dan sama-sama berasal dari Kabupaten Ogan Ilir. Keduanya mempunyai ciri khasnya tersendiri. Berikut, detikSumbagsel rangkum perbedaan antara Pindang Pegagan dan Pindang Meranjat. Yuk simak!

Asal Usul Pindang Pegagan dan Meranjat

Pindang merupakan proses pengolahan ikan dengan cara merebusnya bersama garam dan bumbu tertentu untuk tujuan pengawetan. Di Sumatera Selatan, teknik ini berkembang pesat karena melimpahnya ikan air tawar dari Sungai Musi, terutama daerah Ogan Ilir dan wilayah rawa.

Pindang Pegagan berasal dari suku Pegagan, salah satu sub-suku di wilayah Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir. Suku ini secara historis mendiami sepanjang aliran Sungai Ogan, khususnya di wilayah seperti Tanjung Raja dan Pemulutan.

Dahulu, masyarakat Pegagan banyak yang hidup di atas rakit atau rumah panggung di pinggir sungai. Pola hidup yang dekat dengan air membuat mereka membutuhkan cara memasak yang praktis. Karena hidup berpindah atau di area rawa, bumbu yang digunakan adalah bahan-bahan dasar yang mudah dibawa dan disimpan, seperti cabai, bawang, dan terasi.

Berbeda dengan Pegagan yang merujuk pada cakupan suku yang luas, Pindang Meranjat merujuk secara spesifik pada sebuah desa, yaitu Desa Meranjat di Kecamatan Indralaya Selatan, Ogan Ilir.

Masyarakat Meranjat dikenal memiliki tradisi kuliner yang sangat kuat. Mereka melakukan eksperimen bumbu yang lebih kompleks dibandingkan masyarakat Pegagan.

Sejarah mencatat bahwa warga Meranjat adalah salah satu yang pertama kali mempopulerkan pindang sebagai komoditas komersial. Mereka membuka warung-warung pindang di pinggir jalan lintas Sumatera, yang membuat nama Pindang Meranjat dikenal luas hingga ke luar provinsi jauh sebelum Pindang Pegagan masuk ke restoran-restoran besar.

Perbedaan Pindang Pegagan dan Meranjat

Kuah Pindang Pegagan memiliki ciri khas warna merah yang menyala namun terlihat jernih. Warna merah ini didapatkan dari cabai merah yang dihaluskan dengan sangat baik. Tekstur kuahnya encer, tidak berminyak, dan memberikan kesan bersih di mata. Detikers tidak akan menemukan banyak potongan bumbu yang mengapung di sini, karena semua bumbu biasanya sudah menyatu sempurna dengan air rebusan.

Sedangkan, Pindang Meranjat memiliki warna yang lebih keruh, cenderung kuning kecokelatan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan kunyit dan terasi yang lebih dominan. Di dalam kuahnya, detikers akan melihat ramainya bahan tambahan seperti potongan nanas, irisan tomat, daun kemangi, hingga cabai rawit utuh yang dibiarkan mengapung.

Pindang Pegagan memiliki rasa yang didominasi oleh sensasi pedas dan asam. Rasa asamnya bukan berasal dari nanas, melainkan dari penggunaan asam jawa atau pemanis alami dari tomat. Karena bumbunya diulek halus, rasa pedasnya terasa merata di setiap seruputan kuah. Pindang ini sangat cocok dinikmati di siang hari

Berbeda dari Pindang Meranjat yang miliki rasa gurih yang kuat. Rahasianya terletak pada penggunaan terasi yang lebih terasa serta aroma daun kemangi yang sangat kuat. Selain itu, adanya potongan nanas memberikan kombinasi rasa manis, asam, dan gurih yang berlapis. Rasa pedasnya pun biasanya lebih keluar, karena ada tambahan cabai rawit burung yang sering kali digerus langsung di mangkuk.

Untuk cara pengolahan Pindang Pegagan, bumbu-bumbu seperti bawang merah, cabai merah, dan terasi diulek hingga benar-benar halus. Filosofinya adalah agar bumbu meresap hingga ke duri ikan tanpa mengganggu tekstur kuah yang bening. Pindang Pegagan asli jarang menggunakan bawang putih untuk menjaga keaslian aroma ikannya.

Untuk Pindang Meranjat sendiri, bumbu yang digunakan cenderung diulek kasar atau bahkan hanya diiris. Nanas dipotong-potong kecil dan dimasak bersamaan dengan ikan agar sarinya keluar dan mengentalkan kuah. Selain itu, serai dan lengkuas yang digeprek memberikan aroma woody yang kuat.



Simak Video "Video: Momen Penyerahan Sertifikat ICH UNESCO Kebaya-Reog ke ANRI"


(csb/csb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork