TBC Sumsel Terdata 9.548 Kasus, 366 Orang Meninggal

Sumatera Selatan

TBC Sumsel Terdata 9.548 Kasus, 366 Orang Meninggal

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Kamis, 30 Jul 2026 10:31 WIB
Ilustrasi TBC Paru
Foto: Ilustrasi TBC (Edi Wahyono)
Palembang -

Angka kasus tuberkulosis (TBC) di Sumatera Selatan, masih tinggi. Dinas Kesehatan Sumsel mencatat jumlah kasusnya sebanyak 9.548 kasus (hingga Juni 2026), dengan angka kematian 366 orang. Terbanyak kasusnya di Palembang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa mengatakan jumlah kasus TBC tertinggi terjadi pada Januari yang tercatat sebanyak 1.851 kasus dan April 1.821 kasus. Terendah tercatat pada Maret sebanyak 1.369 kasus.

"Kasus TBC terbanyak tercatat di Palembang, yang hingga Juni 2026 terdata sebanyak 2.816 kasus atau hampir 30 persen dari total kasus di Sumsel," ujar Ira, Rabu (29/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain Palembang, daerah dengan jumlah kasus tertinggi lainnya di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 783 kasus, Muara Enim 747 kasus, Musi Banyuasin (Muba) 586 kasus, Lubuklinggau 580 kasus, dan Banyuasin 570 kasus.

Kemudian, di OKU Timur 477 kasus, Empat Lawang 415 kasus, OKU 392 kasus, Lahat 363 kasus, Musi Rawas (Mura) 335 kasus, Ogan Ilir 308 kasus, Prabumulih 302 kasus, OKU Selatan 287 kasus, Musi Rawas Utara (Muratara) 235 kasus, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dan Pagar Alam masing-masing 176 kasus.

ADVERTISEMENT

Angka kematian TBC terbanyak terjadi di Palembang dengan 137 orang. Disusul Muba 29 orang, Muara Enim 26 orang, Lahat 22 orang, OKI 21 orang, Ogan Ilir 20 orang, Banyuasin dan OKU Timur masing-masing 19 orang.

Lalu di Lubuklinggau 12 orang dan Mura 10 orang. Kemudian 9 orang di OKU, OKU Selatan, dan Prabumulih. Pagar Alam 8 orang, Empat Lawang 7 orang, Murarara 5 orang, dan PALI 4 orang.

Dia berharap, jumlah kasus TBC tahun ini menurun dibandingkan 2025 yang tercatat sebanyak 24.748 kasus. Dari jumlah kasus tahun lalu, mereka yang mendapatkan pengobatan sebanyak 65,34 persen dari estimasi kasus.

"Salah satu strategi utama dalam menangani kasus TBC, dengan memperkuat skrining dan investigasi kontak terhadap seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC," katanya.

Pemeriksaan tersebut meliputi skrining kesehatan hingga pemeriksaan dahak bagi kontak erat guna memutus rantai penularan penyakit yang menyebar melalui udara. Selain itu, pihaknya juga terus mengintensifkan penemuan kasus secara aktif di seluruh wilayah, sekaligus memastikan setiap pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.

"Pasien harus patuh minum obat sampai selesai. Jika pengobatan tidak tuntas, risiko kematian meningkat dan potensi penularan kepada orang lain juga semakin besar," jelasnya.

Dia menyebut, TBC bukan merupakan penyakit keturunan, melainkan penyakit menular yang menyebar melalui percikan udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

"Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan juga menunjukkan upaya deteksi dini semakin baik sehingga lebih banyak pasien dapat segera memperoleh pengobatan," ungkapnya.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads