Guru SMAN 8 Bungo Protes PETI Dekat Sekolah Sebabkan Suara Bising

Jambi

Guru SMAN 8 Bungo Protes PETI Dekat Sekolah Sebabkan Suara Bising

Dimas Sanjaya - detikSumbagsel
Kamis, 30 Apr 2026 22:31 WIB
Guru SMAN 8 Bungo melakukan protes tambang emas ilegal berada di dekat sekolah
Foto: Guru SMAN 8 Bungo melakukan protes tambang emas ilegal berada di dekat sekolah (Dok. Istimewa)
Bungo -

Belasan guru SMA Negeri 8 Bungo, Jambi, melakukan protes atas aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI), yang berada berdampingan dengan sekolah. Aktivitas PETI membuat kebisingan sehingga mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.

Aksi protes itu dilakukan para guru dan tenaga TU sekolah dengan mendatangi lokasi tambang ilegal di belakang sekolah yang berada di Desa Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan, Bungo, pada Rabu (29/4/2026).

Para guru membawa spanduk bertuliskan penolakan terhadap aktivitas PETI yang terus beroperasi di dekat lingkungan pendidikan. Tak hanya itu, sejumlah guru juga berjalan tanpa alas kaki sambil menyampaikan orasi sebagai bentuk keresahan terhadap aktivitas tambang emas ilegal tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami SMAN 8 Bungo butuh ketenangan. Selamatkan sekolah kami," tulis spanduk tersebut dilihat detikSumbagsel, Kamis (30/4/2026).

Kepala SMA Negeri 8 Bungo, Khoirul Hadi, mengatakan aktivitas PETI itu sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Lokasi tambang disebut berada sangat dekat dengan pagar sekolah, mulai dari sisi samping hingga belakang gedung sekolah.

ADVERTISEMENT

"Jarak dari sekolah (tambang ilegal) kurang lebih 10-15 meter, dekat sekali dengan pagar sekolah, di samping sampai belakang sekolah," kata Hadi kepada detikSumbagsel, Kamis.

Menurut Hadi, para guru dan siswa merasa terganggu karena para penambang beroperasi sejak pagi dan malam hari. Suara mesin dan alat berat membuat konsentrasi belajar siswa terganggu.

"Kami dan siswa merasa terganggu dengan suara mesin, karena menggangu konsentrasi belajar anak-anak," kata Hadi.

Selain kebisingan, pihak sekolah juga khawatir aktivitas tambang ilegal tersebut memicu bencana alam. Pasalnya, kawasan sekolah diketahui rawan banjir dan pembukaan lahan tambang dikhawatirkan memperparah kondisi lingkungan.

"Tentu ancaman bencana, karena kalau di situ sudah dibuka (menjadi tambang emas ilegal), otomatis ya mengundang bencana karena rawan banjir," ujar Hadi.

Sejak awal April 2026, Hadi sudah mendapat informasi bahwa di sekitar sekolahnya itu akan dibuka menjadi tambang emas ilegal. Hal itu ditandai dengan berdirinya pondok-pondok dan adanya alat berat di lokasi yang melakukan penggalian.

"Itu saja alat berat besar bikin jalan rusak karena masuk melewati sekolah," jelasnya.

Pihak sekolah pun mengaku telah berulang kali berkoordinasi dan melapor ke berbagai pihak, mulai dari kepala desa, BPD, camat hingga Polsek Rantau Pandan. Namun hingga kini aktivitas tambang disebut masih terus berjalan.

"Kami sudah koordinasi dengan Polsek, dan Camat, di situ ada kepala desa, ketua BPD, ketua komite yang juga ketua lembaga adat, kami sudah laporkan, tapi tidak diindahkan," ucapnya.

"Kami sudah ketemu dengan pekerja, memang bukan sama pemilik. Sudah kami sampaikan bahwa 'jangan bekerja'. Nampaknya juga tidak diindahkan, sehingga kami melakukan (aksi penolakan) ini. Polsek kami ajak turun ke lapangan waktu itu ada Pak Bhabin," sambungnya.

Pihak sekolah berharap aparat penegak hukum segera menutup total aktivitas PETI tersebut demi keselamatan dan kenyamanan siswa saat belajar.

"Pernah sekali (penindakan), sempat berhenti sebentar, tapi sudah itu mulai lagi. Harapan kami ya, itu ditutup total," pungkasnya.

Sementara itu, terkait aktivitas PETI di lingkungan sekolah ini, Kapolres Bungo AKBP Zamri Elfino belum merespon saat dikonfirmasi.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads