Saat mentari pagi mulai naik di ufuk timur, embun pagi perlahan menguap dari hamparan kangkung di Desa Pulau Semambu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Di atas lahan gambut yang dulu gersang dan mudah terbakar, kini mulai tumbuh kehidupan baru.
Yatina (55), warga setempat, tampak menunduk memetik kangkung muda yang siap panen. Dengan tangan cekatan dan senyum yang lebar, ia memetik satu per satu daun hijau yang tumbuh subur di lahan yang dulunya tidak bisa ditanami itu.
"Dulu tanah ini sering terbakar, asapnya bikin sesak. Sekarang alhamdulillah, tanahnya hijau dan jadi sumber penghasilan kami," katanya sambil mengikat hasil panennya ke dalam bakul bambu.
Pulau Semambu dikenal sebagai salah satu wilayah dengan lahan gambut luas di Ogan Ilir. Bertahun-tahun, kawasan ini identik dengan kekeringan, kebakaran hutan, dan tanah yang sulit ditanami. Saat musim kemarau tiba, air surut hingga warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Anak-anak sekolah dulu diwajibkan bawa air bersih setiap hari, minimal satu setengah liter, untuk MCK di sekolah. Kalau tidak bawa, harus ganti di hari berikutnya," kenang Yatina.
Kondisi ini berubah drastis sejak dua tahun terakhir, ketika Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menghadirkan program Spider Web Irrigation System (SWIS) teknologi irigasi jaring laba-laba berbasis tenaga surya yang menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
SWIS bekerja dengan memanfaatkan tenaga surya untuk memompa air dari sumur bor menuju tandon besar, lalu dialirkan melalui pipa-pipa kecil yang membentuk pola seperti jaring laba-laba. Air dari tandon ini tidak hanya mengairi lahan pertanian, tetapi juga memenuhi kebutuhan air bersih warga.
"Dulu kami harus beli BBM buat mesin bor. Sekarang cukup tenaga matahari. Lahan kami tidak kekeringan lagi," ujar Purnadi (55), petani kangkung yang kini panen dua kali lipat dibanding sebelum ada SWIS.
Sebelum ada SWIS, panen sayur hanya bisa dilakukan 5-6 kali dalam setahun. Kini, dengan pengairan stabil dari energi surya, para petani Pulau Semambu mampu panen hingga 12 kali. Dalam sekali panen, hasilnya bisa mencapai 300 ikat kangkung, panen ini meningkat hampir dua kali lipat dari sebelumnya.
Selain pertanian, SWIS juga menghadirkan manfaat sosial yang luas. Air bersih kini mengalir ke 14 rumah warga, memenuhi kebutuhan mandi, cuci, bahkan konsumsi. Filtrasi sederhana membuat air rawa menjadi jernih dan layak pakai.
"Dulu kami harus jalan kaki dua kilometer bawa air. Sekarang air mengalir langsung ke rumah. Anak-anak bisa sekolah tanpa beban," kata Purnadi sambil tersenyum.
Inovasi SWIS tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga berkontribusi pada pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dengan ketersediaan air yang cukup dan lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian, risiko kebakaran berkurang signifikan.
Data menunjukkan, luas lahan terbakar di Desa Pulau Semambu menurun dari 27,5 hektare pada tahun 2023 menjadi hanya sekitar 3 hektare pada pertengahan 2025. Sebuah penurunan drastis yang menggambarkan perubahan nyata di lapangan.
"Dulu api gampang menyebar karena lahan kosong dan kering. Sekarang tanahnya basah dan hijau, jadi tidak mudah terbakar," ungkap Purnadi.
Keberadaan SWIS juga membuka peluang ekonomi baru. Pertamina mendorong masyarakat untuk mengembangkan produk olahan dari hasil pertanian, seperti keripik bayam, pisang, dan daun kemangi.
Salah satunya adalah Lilis Suryani, Ketua Rumah Industri Desa Pulau Semambu yang mengelola hasil panen menjadi produk rumahan siap jual.
"Dulu hasil panen dijual mentah. Sekarang kami olah sendiri, bisa dijual ke Palembang bahkan ikut pameran UMKM," ujar Lilis bangga.
(dai/dai)