Kasus Demam Berdarah di Sumsel Turun, Dinkes Waspadai Musim Hujan

Sumatera Selatan

Kasus Demam Berdarah di Sumsel Turun, Dinkes Waspadai Musim Hujan

Vinsca Hardyanti - detikSumbagsel
Kamis, 22 Okt 2026 05:30 WIB
Demam berdarah saat El Nino
Foto: Ilustrasi nyamuk penyebab demam berdarah (Getty Images/frank600)
Palembang -

Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mewaspadai potensi peningkatan kasus dengue pada akhir 2026 hingga awal 2027 seiring perkiraan meningkatnya curah hujan pada November dan Desember.

Meski kasus dengue di Sumsel cenderung menurun pada Oktober, masyarakat tetap diminta waspada dan mengantisipasi perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti yang dapat memicu penularan demam berdarah dengue (DBD).

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, menyebutkan perubahan cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi fluktuasi kasus dengue.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan perkiraan Dinkes Sumsel, intensitas curah hujan menengah hingga tinggi diperkirakan mulai terjadi pada November-Desember 2026, sehingga peningkatan kasus berpotensi terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027.

"Intensitas curah hujan menengah-tinggi diperkirakan mulai terjadi pada bulan November-Desember 2026, sehingga kasus dengue diperkirakan meningkat pada bulan Desember 2026-Januari 2027," katanya, Rabu (21/10).

ADVERTISEMENT

Data Dinkes Sumsel menunjukkan Kota Palembang masih menjadi wilayah dengan kasus dengue tertinggi selama periode 2024-2026. Pada 2024 tercatat 1.268 kasus, kemudian menurun menjadi 968 kasus pada 2025 dan kembali turun menjadi 811 kasus pada 2026.

Secara bulanan, kasus dengue di Sumatera Selatan pada Oktober 2026 tercatat 161 kasus, lebih rendah dibandingkan September sebanyak 391 kasus dan Agustus sebanyak 426 kasus.

Di tengah penurunan kasus tersebut, angka kematian akibat dengue di Sumsel sepanjang 2026 tercatat sebanyak 22 orang. Kabupaten Banyuasin mencatat kematian terbanyak dengan enam orang, disusul Muara Enim lima orang dan Musi Banyuasin tiga orang.

Dinkes menyebut keterlambatan pasien mendapatkan penanganan di rumah sakit menjadi salah satu penyebab kematian, terutama ketika pasien telah mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS). Komplikasi dan penyakit penyerta juga dapat memperburuk kondisi pasien.

"Sebagian besar kematian disebabkan keterlambatan pasien datang ke rumah sakit, yang mana sudah dalam kondisi Dengue Shock Syndrome (DSS)," terangnya.

Masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala dengue dan segera mencari pertolongan medis apabila kondisi memburuk, terutama jika muncul tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, perdarahan, lemas berat, atau tangan dan kaki terasa dingin.

Untuk menekan risiko penularan, Dinkes Sumsel akan mendistribusikan 200.100 sachet larvasida untuk pengendalian jentik nyamuk serta 1.224 botol insektisida Rokhantion UL.

"Upaya pengendalian juga perlu diikuti pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menampung air, termasuk wadah penampungan air selama musim kemarau," jelasnya.

Selain pengendalian nyamuk, Dinkes Sumsel melaporkan sebanyak 5.000 anak sekolah dasar di Kota Palembang telah menerima dua dosis vaksin dengue. Hingga data tersebut disampaikan, belum ditemukan kasus dengue pada anak-anak yang telah divaksin.

Meski demikian, vaksinasi tetap perlu disertai upaya pemberantasan sarang nyamuk dan kewaspadaan terhadap gejala, karena perlindungan tidak menggantikan langkah pencegahan lainnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads