Koalisi Pers Sumsel mendesak Polda Sumsel untuk bertindak lebih tegas dan cepat dalam mengusut kasus pengeroyokan terhadap dua wartawan dan mahasiswa di Palembang. Mereka mendesak agar polisi menangkap pelaku intelektual di balik kericuhan dan pengeroyokan tersebut.
Ketua Koalisi Pers Sumsel, Ardhy Fitriansyah mengatakan pihaknya sudah bertemu langsung dengan pihak Kompolnas RI terkait penanganan kasus tersebut. Menurutnya, pihak kepolisian bisa memanfaatkan bukti video dan foto yang telah beredar sebagai alat bantu penyelidikan untuk mengungkap para pelaku maupun pihak yang terlibat.
"Kami tadi sudah bertemu dengan pihak Kompolnas RI, mereka juga sudah mendengarkan kronologi awal kejadian dari para korban. Harapannya, pihak kepolisian dapat segera mengungkap kasus ini," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai bahwa kasus tersebut harus segera ditindaklanjuti, sebab sejumlah alat bukti sudah diserahkan ke penyidik. Ia juga berharap setelah pertemuan dengan Kompolnas dapat mendorong Polda Sumsel bergerak lebih cepat dalam mengungkap seluruh pihak yang terlibat.
"Jika pihak kepolisian ingin melakukan tindakan tegas, rasanya tidak sulit untuk mengungkap kasus ini. Selain tiga pelaku itu, masih ada sejumlah orang yang terlihat jelas dalam video dan foto, tetapi belum tertangkap. Kami meminta agar hal ini segera ditindaklanjuti secara tegas," ujarnya.
Ia juga mendesak agar pihak kepolisian dapat menangkap pelaku intelektual dibalik kejadian tersebut. Sebab menurutnya, aksi tersebut seperti sudah terorganisir.
"Termasuk menangkap aktor intelektual dan pelaku utama di lapangan. Kami berharap semuanya diungkap agar kasus ini benar-benar terang dan tidak menyisakan tanda tanya di tengah masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, Pimred PALTV, Firman Hidayat mengatakan kurang puas dengan 3 orang telah diamankan sebelumnya, sebab menurutnya mereka hanya anak buah bukan pelaku utamanya.
"Kami hanya minta Polda Sumsel bekerja, jangan tangkap tangkap kroco-kroco (bawahannya) nya, tapi aktor intelektualnya siapa? dan mohon keterbukaannya," katanya.
Sebelumnya, Rachmad, wartawan Tribun Sumsel, dan Mulyadi, wartawan PALTV, menjalani korban pengeroyokan saat meliput aksi demo terkait karhutla di depan Mapolda Sumsel pada Selasa (13/10) lalu. Selain itu ada 3 orang mahasiswa dan 1 anggota polisi yang juga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah orang menggunakan pakaian hitam.
