Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menggelar salat Istisqa di halaman Griya Agung, Palembang, Kamis (8/10/2026) siang. Kegiatan dirangkaikan dengan doa bersama itu digelar di tengah kabut asap yang cukup tebal.
Pelaksanaan Salat Istisqa ini menjadi yang ketiga kalinya, sebagai bentuk ikhtiar meminta hujan di tengah kondisi kemarau dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan Salat Istisqa yang dilakukan tak hanya ditujukan untuk kepentingan pemerintah maupun kelompok tertentu, tapi juga ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahwa yang kita lakukan hari ini (Salat Istisqa) bukan untuk kepentingan kita sendiri. Permohonan ini untuk kepentingan orang banyak," ujar Deru dalam sambutannya.
Dia menyebut hujan yang turun nantinya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat tanpa melihat latar belakang agama, suku, maupun profesi.
"Sesama agama, beda agama, sesama suku, beda suku, maupun profesi. Hujannya sama-sama kalau kita dapat hujan," katanya.
Kata Deru, salat Istisqa dan doa bersama ini menjadi bagian dari ikhtiar yang dilakukan pemerintah untuk melengkapi berbagai upaya penanganan karhutla, baik melalui jalur darat maupun udara.
"Melengkapi upaya kita, upaya darat, udara, dilengkapi dengan doa. Kita salat Istisqa berharap didatangkan hujan dari Allah," katanya.
Deru menyebut, dari sisi udara, pemerintah juga terus melakukan operasi hujan buatan atau modifikasi cuaca. Dalam dua bulan terakhir, upaya tersebut sudah dilakukan sebanyak 69 kali.
"Sudah 69 kali di dua bulan ini kalau dihitung, kita melaksanakan operasi hujan buatan atau modifikasi cuaca," ujarnya.
Adapun Doa juga ditujukan kepada para petugas dan pihak yang masih turun langsung ke lapangan untuk menangani karhutla.
"Dan berdoa agar sahabat-sahabat kita yang turun di lapangan diberikan kekuatan mengendalikan dan memadamkan api," ungkapnya.
