Wali Kota Palembang meninjau fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Keramasan, Kecamatan Kertapati. Dalam peninjauan tersebut, pasokan sampah ke PSEL disebut telah stabil mencapai sekitar 1.100 ton per hari selama 10 hari berturut-turut.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan PSEL setelah memasuki tahapan pembakaran dan pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Dewa mengatakan mengatakan usai melihat langsung sejumlah proses di fasilitas tersebut, mulai dari sampah yang masuk, proses pembakaran hingga pembangkitan energi listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang kita pastikan adalah seluruh prosesnya berjalan dengan baik, mulai dari pasokan sampah, pembakaran sampai dengan pembangkitan energi listrik," katanya kepada wartawan, Rabu (30/9/2026).
Dewa mengungkapkan konsistensi pasokan sampah menjadi salah satu perhatian utama. Sebab, keberlangsungan operasional PSEL sangat bergantung pada ketersediaan sampah yang masuk setiap harinya.
Saat ini, pasokan sampah ke PSEL Keramasan berada di kisaran 1.100 ton per hari dan kondisi tersebut telah berlangsung selama 10 hari berturut-turut.
"Pasokan sampah yang stabil menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan proses pengolahan. Karena itu, pengaturan armada, ritase dan koordinasi terus diperkuat," jelasnya.
Selain pasokan, dua tungku pembakaran difasilitas PSEL juga dilaporkan telah beroperasi dengan baik tanpa kendala berarti.
Sampah yang masuk kemudian diproses melalui tungku pembakaran untuk menghasilkan energi panas. Energi tersebut selanjutnya dimanfaatkan dalam rangkaian proses pembangkitan listrik.
"Pengoperasian dua tungku ini menjadi bagian penting dalam proses pengolahan sampah menjadi energi. Pemantauan tetap dilakukan agar seluruh proses berjalan dengan baik, termasuk aspek keselamatan dan lingkungan," ujarnya.
Dewa menjelaskan perkembangan PSEL juga terlihat dari sisi pembangkitan listrik. Kapasitas pembangkit sebesar 17,7 megawatt (MW) disebut telah terpenuhi untuk disalurkan ke PLN.
Pemanfaatan sampah menjadi energi listrik ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Palembang mengubah sistem pengelolaan sampah.
Sampah yang sebelumnya hanya menjadi beban dalam sistem persampahan kini diarahkan untuk diolah dan dimanfaatkan sebagai sumber energi.
"PSEL ini bukan hanya soal membakar sampah. Seluruh sistemnya harus berjalan, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, penimbangan, suplai, pengolahan sampai pengelolaan residu dan pemantauan lingkungan," katanya.
Dewa menilai keberhasilan PSEL tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fasilitas pengolahan. Sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah dari seluruh wilayah kota juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Karena itu, koordinasi antara Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang, armada pengangkutan dan pihak pengelola PSEL terus dilakukan untuk menjaga pasokan sampah.
Selain itu, pengendalian emisi, pemantauan lingkungan dan pengelolaan residu juga menjadi perhatian dalam operasional fasilitas tersebut.
Dia menyatakan akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap PSEL. Harapannya, fasilitas tersebut tidak hanya membantu mengurangi beban sampah yang harus ditangani, tetapi juga menghasilkan manfaat berupa energi listrik.
"Pengembangan PSEL harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas layanan persampahan. Semua tahapan harus menjadi satu kesatuan agar manfaatnya benar-benar dirasakan Kota Palembang," ujarnya.
