Pengamat Soal PJJ-PTM Palembang: KBM Jalan Tanpa Abaikan Kesehatan

Sumatera Selatan

Pengamat Soal PJJ-PTM Palembang: KBM Jalan Tanpa Abaikan Kesehatan

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Rabu, 30 Sep 2026 13:40 WIB
Kabut asap tebal selimut Palembang
Kabut asap tebal selimut Palembang (Foto: Rio Roma Dhoni)
Palembang -

Skema pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan tatap muka (PTM) diterapkan di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, imbas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengamat pendidikan Sumsel Abdullah Idi menyebut skema itu memiliki kelebihan dan kekurangan.

Bahkan, dia menilai kondisi asap berpotensi mengganggu proses belajar mengajar, baik melalui PJJ maupun PTM. Namun, dalam situasi karhutla, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) membutuhkan perhatian lebih, terutama terkait kesehatan dan kesiapan siswa, guru, dan orang tua.

"PJJ memiliki kelebihan karena fleksibel, siswa dapat belajar dari mana saja. Selain itu, bisa menghemat biaya transportasi dan melatih kemandirian serta kemampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi," ujarnya, Rabu (30/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, menurutnya, PJJ juga memiliki sejumlah kendala. Proses pembelajaran sangat bergantung pada jaringan internet dan perangkat gawai. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kesenjangan akses antara siswa di daerah perkotaan dan daerah terpencil.

"Kontrol guru terhadap proses belajar, termasuk kedisiplinan dan etika belajar siswa, juga bisa kurang efektif ketika pembelajaran dilakukan dari rumah," katanya.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, PTM memungkinkan guru dan siswa berinteraksi secara langsung. Komunikasi melalui diskusi dan tanya jawab juga dinilai lebih efektif. Guru pun dapat melakukan pengawasan secara langsung terhadap kedisiplinan, perilaku, dan perkembangan siswa di lingkungan sekolah.

Namun, PTM juga memiliki keterbatasan. Proses belajar terikat oleh waktu dan tempat serta membutuhkan biaya tambahan seperti transportasi dan kebutuhan jajan siswa selama berada di sekolah.

"Di tengah kondisi karhutla, baik PJJ maupun PTM sama-sama memiliki tantangan. Yang paling penting adalah bagaimana memastikan proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan anak-anak," jelasnya.

Abdullah Idi mengatakan potensi ketertinggalan belajar dapat terjadi apabila proses pembelajaran terganggu akibat kabut asap. Hal itu tidak hanya berkaitan dengan metode pembelajaran, tetapi juga kesiapan guru, siswa, dan orang tua.

Menurutnya, kondisi psikologis dan kedisiplinan siswa juga perlu menjadi perhatian. Lingkungan yang tidak mendukung akibat kualitas udara yang buruk dapat memengaruhi konsentrasi dan kenyamanan anak dalam belajar.

"Musibah kabut asap tentu dapat mengganggu proses pembelajaran. Karena itu, kesiapan guru, siswa dan orang tua menjadi penting. Orang tua juga menghadapi persoalan karena harus tetap bekerja sekaligus memastikan kesehatan dan pendidikan anak tetap terjaga," katanya.

Di sisi lain, penerapan PJJ di rumah juga bukan tanpa persoalan. Tidak semua siswa dapat belajar dengan serius dan fokus ketika tidak berada dalam pengawasan langsung guru.

Sedangkan jika PTM tetap dilakukan, persoalan kesehatan menjadi perhatian tersendiri. Tidak semua orang tua memiliki kemampuan ekonomi yang sama untuk menyediakan perlindungan kesehatan, termasuk masker bagi anak ketika harus beraktivitas di tengah kondisi kabut asap.

Karena itu, dia menilai proses pembelajaran di tengah karhutla perlu disertai langkah preventif untuk melindungi kesehatan siswa.

"Apapun skema pembelajarannya, baik PJJ maupun PTM, perlu ada perhatian khusus terhadap disiplin belajar dan kesehatan anak. Jika harus pergi dan pulang sekolah, misalnya, penggunaan masker menjadi salah satu upaya preventif untuk mengurangi dampak paparan kabut asap," ungkapnya.



(csb/csb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads