Seorang mutawif atau pembimbing tawaf diduga mengeluhkan jemaah yang baru melaksanakan umrah pada saat usia tua. Dia menilai jemaah lanjut usia (lansia) merepotkan dan harus mengeluarkan biaya lebih banyak.
Pernyataan itu divideokan dengan handphone miliknya di depan seorang lansia perempuan yang berada di kursi roda, di dalam sebuah lift. Terdapat juga dua orang lain di samping jemaah perempuan lansia tersebut.
Keluhan yang disampaikannya berkaitan dengan biaya kursi roda yang harus dikeluarkan. Dia menyebut jika hal itu tidak gratis bagi jemaah. Keluhan yang disampaikannya itu dengan napas yang terengah-engah.
"Pelajaran nih, kalau bisa jangan berangkat umrah pas tua-tua. Nih, harus nambah kursi, dikit-dikit kursi. Itu udah duit itu. Gak ada yang gratis di sini," ujar pria perekam video dilihat detikSumbagsel, Kamis (24/9/2026).
Hal itu juga disebutnya sebagai pelajaran bagi jemaah lansia lainnya yang ingin melaksanakan umrah.
"Ini nasihat bagi yang mau umrah. Jangan nunggu tua baru umrah ya. Gak ada ceritanya, umur baru tua baru umrah. Nih semuanya harus kursi, gak kuat jalan lagi," katanya lagi.
Diduga jemaah umrah yang dibimbingnya berasal dari salah satu wilayah di Sumsel. Sebab, dia menyebut suku Komering dalam pernyataannya. Komering merupakan salah satu yang ada di Sumsel.
"Nih bagi orang Komering nih, tua numpuk dulu harta. Beli rumah, brli mobil, umrahnya tua giliran tua. Nyampe sini dikit-dikit kursi, dikit-dikit sakit," ungkapnya.
Video itu mendapat perhatian publik. Termasuk Gubernur Sumsel Herman Deru. Deru meminta mutawif tetap memberikan pelayanan baik kepada seluruh jemaah, termasuk para lansia.
"Kalau berita itu benar, saya minta para pembimbing, para mutawif, jangan ekspresif melayani tamu-tamu itu. Layani dengan baik. Kalau ada yang kurang baik, bicarakan dengan keluarganya, apalagi orang-orang ingin beribadah," ujar Deru.
Deru juga menekankan pentingnya sikap hormat kepada jemaah lansia. Menurutnya, kata-kata tak pantas yang disampaikan oknum pembimbing ibadah umrah dapat merusak citra perusahaan yang menaunginya.
"Jangan sampai merusak nama perusahaan tempatnya bernaung," tukasnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumsel M Arkan yang dikonfirmasi tidak merespons terkait persoalan tersebut.
Simak Video "Video Timwas Haji DPR Bahas Persiapan Puncak Ibadah Haji 2026"
(dai/dai)