Satu jemaah haji Embarkasi Palembang, asal Kabupaten OKU, Sumatera Selatan, yakni Roainah Yusul Dahalim (76) tertunda keberangkatannya karena sakit. Jemaah haji yang tergabung dalam kloter 11 ini seharusnya berangkat Sabtu (9/5/2026).
"Ibu Roainah terpaksa belum bisa berangkat karena kondisi kesehatan yang memerlukan observasi lebih lanjut oleh tim medis. Kita doakan semoga kondisinya segera membaik agar bisa disisipkan ke kloter berikutnya," ujar Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumsel M Arkan Nurwahiddin, sabtu (9/5/2026).
Dengan tertundanya Roainah, maka kloter 11 memberangkatkan 444 jemaah haji. Ratusan jemaah itu berasal dari Palembang, Ogan Komering Ulu (OKU), dan OKU Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kloter 11 yang tergabung dalam gelombang II, akan langsung mengenakan seragam ihram sejak bertolak dari Asrama Haji Sumsel. Mereka akan langsung menuju Arab Saudi pada Sabtu (9/5/2026). Jemaah asal Palembang, Ogan Komering Ulu (OKU), dan OKU Selatan ini langsung mengenakan seragam ihram sejak bertolak dari asrama haji.
Penggunaan pakaian ihram sejak dari embarkasi merupakan langkah efisiensi untuk mempermudah jemaah saat tiba di tujuan.
"Seluruh jemaah Kloter 11 sudah kita instruksikan mengenakan pakaian ihram sejak dari asrama. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan rute perjalanan antara Gelombang I dan Gelombang II," ujarnya.
Kata dia, teknis perjalanan haji dibagi dalam dua fase pemberangkatan. Jemaah yang berangkat di gelombang I mendarat di Madinah terlebih dahulu untuk melaksanakan ibadah Arbain sebelum kemudian bergerak menuju Makkah.
Sedangkan jemaah yang berangkat di gelombang II langsung terbang menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Mereka akan langsung melaksanakan ibadah umrah wajib setibanya di Makkah, maka pengambilan miqat dilakukan di atas pesawat atau sesaat sebelum mendarat.
"Inilah alasan mengapa jemaah sudah harus mengenakan ihram dari Tanah Air" ujarnya.
Hingga keberangkatan Kloter 11, Embarkasi Palembang telah menerbangkan total 4.867 jemaah ke Tanah Suci. Rinciannya, sebanyak 3.752 asal Sumsel, 1.071 asal Babel, dan 44 petugas kloter.
