Siswa Lampung Tewas Tersedak Kelengkeng, SPPG Minta Juknis Buah Dievaluasi

Lampung

Siswa Lampung Tewas Tersedak Kelengkeng, SPPG Minta Juknis Buah Dievaluasi

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Rabu, 23 Sep 2026 19:01 WIB
Longan fruits over palm leaves on rattan background. Copy space. Dimocarpus longan. Bunch of exotic longans. Tropical food concept
Foto: Ilustrasi kelengkeng (Getty Images/iStockphoto/jchizhe)
Lampung Tengah -

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meminta evaluasi terhadap petunjuk teknis (juknis) pemberian buah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu disampaikan setelah seorang siswa SD di Lampung Tengah meninggal dunia usai dilaporkan tersedak buah kelengkeng dalam menu MBG.

Siswa tersebut yakni RAP (9), siswa kelas 3 SDN 03 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Lampung Tengah. Peristiwa itu terjadi saat Reyhan menyantap menu MBG di sekolah pada Selasa (22/9/2026) pukul 07.40 WIB.

Kepala SPPG wilayah setempat, Yogi Ganda, mengatakan pihaknya menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya RAP. Dia menyebut kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program MBG ke depan semakin baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya. Kalau saya pribadi, ini benar semua takdir dari Allah, garis hidup anak yang enggak bisa dihindari," kata Yogi, Rabu (23/9/2026).

Menurut Yogi, kejadian tersebut tidak seharusnya hanya dianggap sebagai musibah yang kemudian berlalu. Dia meminta dilakukan koreksi terhadap pelaksanaan MBG, termasuk mengenai pemberian buah kepada penerima manfaat.

ADVERTISEMENT

"Jangan anggap ini semata hanya musibah terus berlalu, takut nanti kejadian lagi," ujarnya.

Yogi mengatakan pihak SPPG juga akan berkoordinasi dengan koordinator wilayah untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Dia menyebut hingga saat ini belum ada pemberitahuan dari Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai jenis buah tertentu yang dilarang diberikan dalam menu MBG.

"Ini dari BGN belum ada pemberitahuan, masalah buah yang dilarang gitu. Ke depannya mungkin kita koordinasi dengan Korcam, koordinator wilayah, itu nanti bakal kita tindak," kata Yogi.

Dia berharap evaluasi nantinya dapat menghasilkan petunjuk yang lebih jelas mengenai jenis buah yang sesuai untuk diberikan kepada penerima manfaat MBG, khususnya anak-anak.

Selain persoalan teknis menu, Yogi menilai koordinasi antara pelaksana MBG dengan pihak sekolah dan unsur masyarakat juga perlu diperkuat. Menurutnya, sinergi diperlukan untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan.

"Kami tetap mendukung program pemerintah, asal itu dalam garis yang benar. Benar-benar hadir untuk masyarakat kita, untuk gizi masyarakat," tuturnya.

Yogi juga mengaku telah memberikan dukungan kepada para guru SDN 03 Poncowarno yang disebut mengalami syok setelah kehilangan salah satu siswanya.

"Saya kawal tadi, memberi semangat kepada dewan guru. Mereka merasa syok kehilangan. Saya takut dengan kejadian ini para dewan guru ketakutan, merasa bersalah," katanya.

Dia berharap peristiwa tersebut menjadi momentum untuk melakukan pembenahan bersama, bukan membuat pelaksanaan pendidikan maupun program MBG terhenti.

"Harapan kami koreksi, berbenah ke depannya. Itu yang lebih baik sebenarnya," ujar Yogi.

"Ini kita benahi bersama-sama ke depan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," sambungnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads