Gubernur Jambi Al Haris mendukung penanaman bambu di lahan gambut sebagai salah satu upaya menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi. Menurut Al Haris, bambu dinilai memiliki karakteristik yang cocok untuk lahan gambut karena dapat memperkuat tanah dan relatif sulit terbakar hingga batangnya.
"Tanam bambu di lahan gambut itu bagus saya kira. Pertama dia memperkuat tanah, kemudian bambu juga kuat. Dan terbakar juga sulit juga. Bambu kan mengandung air," kata Al Haris, Selasa (22/9/2026)
Inisiasi penanaman bambu di lahan gambut di bahas Al Haris saat menghadiri pemaparan pencegahan karhutla di lahan gambut bersama Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo di PT Wirakarya Sakti (WKS) Distrik VII, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Al Haris mengatakan berbagai upaya pencegahan karhutla selama ini mulai menunjukkan hasil, terutama dalam mengurangi praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar oleh masyarakat. Menurutnya, sosialisasi mengenai bahaya dan sanksi pembakaran lahan yang dilakukan aparat hingga tingkat desa turut mendorong kesadaran masyarakat.
"Usahanya banyak, itu yang memang luar biasa. Kendala kami hari ini memang kita akui bahwa kalau yang namanya kebun masyarakat, sudah mulai kita minimalisir. Dengan banyaknya kampanye-kampanye dari teman-teman, dari Kapolsek dan Danramil, Babinsa semuanya. Kampanye tentang sanksi dan sebagainya. Artinya masyarakat sudah bisa ngerem lah," ujar Al Haris.
Pemprov Jambi, kata Al Haris, juga telah menjalankan program Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB). Namun, pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya berkaitan dengan status dan kepemilikan lahan.
Dia menyebut sekitar 40 persen kebakaran lahan terjadi di lahan masyarakat. Sementara itu, kebakaran lainnya berada di kawasan Taman Nasional, Tahura, serta kawasan konservasi.
Karena itu, Al Haris mengatakan Pemprov Jambi akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk mendorong adanya regulasi yang memungkinkan pemerintah mengambil langkah konkret dalam pencegahan karhutla, khususnya di kawasan gambut.
"Saya waktu rapat terakhir saya mau ngomong ke Pak Menteri Kehutanan, kita akan mengambil langkah-langkah. Kita ingin ada regulasi yang mengatur kita boleh mengambil langkah-langkah di lahan gambut," katanya.
Salah satu gagasan yang mendapat dukungan Al Haris adalah penanaman bambu di lahan gambut. Menurutnya, bambu memiliki karakteristik yang dinilai sesuai untuk dikembangkan di kawasan tersebut.
"Tanam bambu di lahan gambut itu bagus saya kira. Pertama dia memperkuat tanah, kemudian bambu juga kuat. Dan terbakar juga sulit juga. Bambu kan mengandung air. Paling daunnya habis, batangnya tidak begitu mudah dihabiskan oleh api. Nah saya setuju," tegasnya.
Al Haris mengatakan gagasan tersebut akan segera ditindaklanjuti bersama Danrem 042/Garuda Putih. Pemerintah akan menggelar pembahasan bersama Forkopimda, bupati/wali kota, serta dinas terkait untuk melihat lokasi yang memungkinkan dijadikan tempat edukasi dan pengembangan penanaman bambu di lahan gambut.
"Mudah-mudahan nanti di lahan-lahan gambut bisa ditanam bambu sehingga ini akan bisa mengurangi risiko bencana di lahan gambut nantinya," ujarnya.
Sementara itu, Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menjelaskan penanganan karhutla di lahan gambut tidak dapat disamakan dengan kawasan lahan mineral. Karakteristik gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman.
Kondisi tersebut dikenal dengan istilah smouldering dan sleeping fire, ketika api dapat bertahan di bawah permukaan dalam waktu lama dan kembali muncul tanpa mudah terdeteksi.
Kunto juga memaparkan konsep Siklus Pertahanan Gambut sebagai salah satu strategi dalam menghadapi karhutla. Konsep tersebut mencakup Zirah untuk perlindungan personel, Tameng sebagai langkah pencegahan, Pedang untuk pemadaman secara cepat dan tuntas, serta Pemulihan setelah kebakaran.
"Pencegahan Karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab TNI dan pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar," pungkas Kunto.
