Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Selatan mengembangkan teknologi padi apung untuk memanfaatkan lahan yang masih tergenang. Namun, produktivitas padi apung saat ini masih di bawah padi yang ditanam di sawah biasa.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengatakan pengembangan padi apung telah dilakukan selama sekitar dua tahun. Salah satu lokasi pengembangannya berada di kawasan Jakabaring, Palembang, melalui kerja sama dengan Bank Indonesia.
"Produktivitas Sumatera Selatan sekarang sekitar 5,8 ton GKG per hektare. Kalau padi apung masih berkisar 4 sampai 4,2 ton," kata Bambang, Jumat (18/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bambang, padi apung dikembangkan sebagai salah satu alternatif untuk memanfaatkan lahan yang masih tergenang. Sistem tersebut dapat diterapkan pada lahan rawa, kolam maupun perairan lain yang belum bisa ditanami menggunakan metode sawah biasa.
Pengembangan teknologi tersebut dinilai relevan dengan kondisi Sumsel yang memiliki wilayah rawa cukup luas. Bambang menyebut sekitar 73 persen wilayah Sumsel merupakan lahan rawa.
"Sumatera Selatan 73 persen lahannya itu ada lahan rawa. Ini berkah bagi kita. Selama ini lahan itu tergenang sembilan bulan bahkan lebih, tetapi ketika airnya turun bisa ditanami," ujarnya.
Bambang mengatakan padi apung menjadi salah satu pilihan untuk memanfaatkan lahan ketika kondisi air belum memungkinkan untuk ditanami secara konvensional. Dengan demikian, lahan yang masih tergenang tetap memiliki potensi menghasilkan produksi pertanian.
Meski produktivitasnya masih sekitar 4-4,2 ton GKG per hektare, pemerintah tetap melihat peluang pengembangan teknologi tersebut. Terlebih, Sumsel memiliki sekitar 115 ribu hektare lahan lebak tengahan yang berpotensi dimanfaatkan untuk budidaya padi.
"Kalau lahannya tergenang, kita manfaatkan dengan padi apung. Ketika airnya sudah turun, lahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk penanaman seperti biasa," jelasnya.
Di sisi lain, pengembangan padi apung juga dilakukan di tengah ancaman kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Sumsel. Pemerintah saat ini menyiagakan pompa untuk menjaga tanaman padi yang sudah ditanam agar tidak kekurangan air.
Bambang mengatakan produksi padi Sumsel justru tercatat meningkat sekitar 5 persen berdasarkan data BPS periode Januari-Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025.
"Alhamdulillah, dari hasil rilis BPS, Januari sampai Agustus 2026 dibanding Januari sampai Agustus 2025, produksi kita meningkat 5 persen," katanya.
Menurut Bambang, berbagai strategi tersebut dilakukan agar lahan pertanian Sumsel tetap produktif, baik ketika menghadapi kekeringan maupun saat sebagian lahan masih tergenang.
