ISPU Palembang Masuk Kategori Berbahaya, Ini Kata Ratu Dewa

Sumatera Selatan

ISPU Palembang Masuk Kategori Berbahaya, Ini Kata Ratu Dewa

Irawan - detikSumbagsel
Jumat, 18 Sep 2026 16:30 WIB
Ratu Dewa saat mengecek posko karhutla di Palembang
Foto: Ratu Dewa saat mengecek posko karhutla di Palembang (Dok. Diskominfo Palembang)
Palembang -

Kondisi udara di Kota Palembang masih dalam kategori berbahaya akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bahkan sempat mencapai angka 302 pada Jumat (18/9) dini hari.

Data tersebut disampaikan Wali Kota Palembang Ratu Dewa saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago meninjau Posko Karhutla di Kantor Kecamatan Kertapati, Palembang.

Kunjungan tersebut juga dihadiri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, serta jajaran komandan operasi Satgas Karhutla Sumsel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ratu Dewa mengatakan kondisi karhutla di Palembang menjadi perhatian karena tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas udara dan kesehatan warga.

"Berdasarkan data sampai 17 September 2026, tercatat 406 kejadian kebakaran lahan di Kota Palembang dengan total luas lahan terdampak sekitar 254,23 hektare," katanya, Jumat (18/9/2026).

ADVERTISEMENT

Dewa mengungkapkan wilayah Kertapati menjadi salah satu wilayah dengan kejadian kebakaran lahan cukup tinggi, yakni 64 kejadian. Selanjutnya Gandus 60 kejadian, Alang-Alang Lebar 56 kejadian, Ilir Barat I 50 kejadian, dan Sukarami 49 kejadian.

Di tingkat kelurahan, Gandus tercatat sebagai wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 39 kali. Disusul Bukit Baru 30 kejadian dan Sukamulya 28 kejadian.

"Sejumlah lokasi bahkan mengalami kebakaran secara berulang. Jalan Tanjung Barangan di Kecamatan Ilir Barat I tercatat mengalami kebakaran sebanyak 14 kali. Kemudian Jalan Talang Kepuh, Kecamatan Gandus, 12 kali dan Jalan Mayjend Satibi Darwis tujuh kali," ungkapnya.

Kondisi karhutla turut berdampak terhadap kualitas udara Palembang. Pemantauan pada 17-18 September menunjukkan ISPU dalam periode 24 jam berada di atas angka 300 pada rentang pukul 23.00 WIB hingga 04.00 WIB.

"Pada Jumat (18/9) pukul 04.00 WIB, ISPU Palembang tercatat 302 atau masuk kategori berbahaya. Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan asap dan partikel pencemar dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat," jelas Dewa.

Dewa mengatakan samapob17 September 2026, tercatat 752 kasus harian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Jumlah tersebut naik 46 kasus dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 706 kasus.

"Kasus ISPA paling banyak ditemukan di Kecamatan Sukarami dengan 91 kasus. Jika berdasarkan usia, kelompok 19-59 tahun menjadi yang terbanyak dengan 320 kasus," katanya.

Dewa menambahkan iabsudah menyiapkan 61 posko kesehatan yang tersebar di 42 puskesmas. Sebanyak 55.400 masker juga telah didistribusikan melalui puskesmas untuk masyarakat.

"Selain karhutla dan asap, kekeringan turut menjadi persoalan yang dihadapi Palembang. Kekurangan air untuk kebutuhan rumah tangga tercatat terjadi di Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, yang berdampak kepada 720 kepala keluarga. Kemudian Kelurahan Karya Mulya, Sematang Borang, sebanyak 58 kepala keluarga dan Silaberanti, Jakabaring, sebanyak empat kepala keluarga," jelasnya.

Sementara itu, Menko Polkam Djamari Chaniago meminta penanganan karhutla dilakukan secara terukur dengan memprioritaskan daerah yang memiliki potensi kebakaran tinggi.

"Pemetaan wilayah rawan dan prediksi lokasi munculnya api penting agar personel serta peralatan dapat dikerahkan dengan cepat," katanya.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan sejumlah provinsi masih menghadapi tingginya titik panas, termasuk Sumsel, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau dan Jambi.

"Meski tren titik panas di Sumsel menunjukkan penurunan, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena titik panas masih cukup tinggi dan dapat berkembang menjadi kebakaran," katanya.

Penanganan dilakukan melalui pengerahan personel darat, water bombing, pemantauan titik panas hingga patroli untuk mencegah munculnya titik api baru.

Di Palembang, Pemkot juga memperketat pengawasan di TPA. Penyiraman dilakukan setiap hari dan petugas disiagakan selama 24 jam. Sampai 17 September, kondisi TPA dilaporkan masih aman.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads