Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di Bengkulu di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering. Hingga September 2026, luas lahan yang terbakar di wilayah Bengkulu tercatat mencapai 125,15 hektare, dengan Kabupaten Kaur menjadi daerah yang mengalami kebakaran terluas.
Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu mencatat luas lahan terbakar di Kabupaten Kaur mencapai 44,25 hektare. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Bengkulu.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian karena sejumlah titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Bengkulu. Pemerintah daerah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah kebakaran meluas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asisten II Setda Provinsi Bengkulu, R.A. Denni mengatakan, Bengkulu sejauh ini belum mengalami karhutla dalam skala besar seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain. Namun, kondisi cuaca kering dan tingginya jumlah titik panas tetap perlu diwaspadai.
"Walaupun sampai saat ini Bengkulu belum mengalami kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar seperti di beberapa daerah lain, kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan," kata Denni, Jumat (18/9/2026).
Denni menyebut berdasarkan pemantauan, terdapat sekitar 1.350 titik panas yang terdeteksi di wilayah Bengkulu. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya potensi kebakaran apabila tidak diantisipasi.
"Jangan sampai aktivitas masyarakat justru menjadi pemicu kebakaran. Apalagi dengan kondisi cuaca yang kering, api akan lebih mudah menyebar," ujar Denni.
Meski Kaur menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, daerah dengan luas wilayah yang masuk kategori kerawanan karhutla tertinggi justru Kabupaten Bengkulu Utara.
Berdasarkan data DLHK Provinsi Bengkulu, wilayah rawan karhutla di Bengkulu Utara mencapai 449.078 hektare. Selanjutnya Kabupaten Mukomuko dengan luas wilayah rawan sekitar 415.111 hektare, dan Kabupaten Kaur sekitar 260.849 hektare.
Denni mengingatkan masyarakat tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah sembarangan, terutama di kawasan yang memiliki lahan gambut.
"Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Hal sederhana seperti tidak membuang putung rokok sembarangan dan tidak membakar sampah juga harus diperhatikan," kata Denni.
Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan bersama karena kebakaran yang awalnya berskala kecil dapat dengan cepat meluas ketika kondisi lingkungan kering dan angin cukup kencang.
"Pemprov Bengkulu terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Cuaca kering dan tingginya titik panas meningkatkan risiko terjadinya karhutla," pungkas Denni.
