Kondisi kualitas udara di Kota Palembang kembali memburuk pada Rabu (16/9/2026) dini hari. Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, konsentrasi PM2.5 sempat mencapai 512,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut membuat kualitas udara berada pada kategori berbahaya. Kondisi ini juga menjadi salah satu pertimbangan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang untuk belum mengembalikan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk siswa jenjang TK, SD, SMP sederajat masih diberlakukan hingga kondisi udara dinilai lebih aman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dewa, keputusan tersebut tidak diambil hanya berdasarkan kondisi kabut asap, tetapi juga dengan melihat perkembangan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan kondisi kesehatan masyarakat, terutama kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Untuk PJJ ini kita akan terus evaluasi. Kalau ISPU dan kondisi ISPA sudah membaik, baru kita pertimbangkan untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka," katanya kepada wartawan, Rabu (16/9/2026).
Dewa menegaskan, untuk sementara waktu kegiatan pembelajaran tetap dilakukan dari rumah. Bahkan, ia memastikan kebijakan PJJ masih berlaku hingga awal pekan depan.
"Yang jelas Senin besok masih tetap PJJ. Kita lihat perkembangannya seperti apa, apakah ISPU sudah membaik dan kasus ISPA juga turun," katanya.
Di sisi lain, Dewa mengakui adanya keluhan dari sejumlah orang tua, khususnya para ibu, terkait pelaksanaan pembelajaran dari rumah. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi Pemkot Palembang agar pelaksanaan PJJ tetap efektif tanpa mengabaikan kesehatan peserta didik.
"Saya juga menerima keluhan dari ibu-ibu terkait belajar mengajar di rumah. Karena itu saya minta Kepala Dinas Pendidikan untuk mengevaluasi kembali bagaimana pola yang paling tepat," jelasnya.
Ia mengatakan, evaluasi tersebut diperlukan agar proses belajar anak tetap berjalan dengan baik di tengah situasi kualitas udara yang belum memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka.
"Jadi bukan berarti sekolah dihentikan. Anak-anak tetap belajar, hanya prosesnya sementara dilakukan dari rumah," tegas Dewa.
Menurutnya, keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kebijakan pendidikan selama kondisi udara di Palembang masih buruk.
"Kita tidak ingin mengambil risiko terhadap kesehatan anak-anak. Kesehatan mereka adalah yang utama. Karena itu kita terus pantau perkembangan ISPU setiap hari, termasuk perkembangan ISPA," ujarnya.
Dewa menambahkan, apabila kondisi udara sudah stabil dan berada pada level yang aman, Pemkot Palembang akan kembali mengevaluasi kebijakan PJJ.
"Kalau kondisi udara sudah stabil dan aman bagi kesehatan, tentu pembelajaran tatap muka akan kita evaluasi kembali," tutupnya.
