Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) berubah arah pada Rabu (9/9/2026) siang. Jika pada pagi hari abu vulkanik terpantau bergerak ke barat laut dan berpotensi masuk wilayah Teluk Lampung, saat ini sebarannya cenderung menjauh dari wilayah Lampung.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 yang dianalisis BMKG pada pukul 13.00 WIB, sebaran abu vulkanik GAK teridentifikasi bergerak ke arah barat daya.
Sebaran abu pada ketinggian permukaan hingga sekitar 5.000 kaki atau 1,5 kilometer terpantau mengarah ke barat daya dan mencakup sebagian wilayah Selat Sunda bagian barat Pandeglang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, sebelumnya pada pagi hari, abu vulkanik GAK terpantau bergerak ke arah barat laut. Kondisi tersebut membuat sebagian sebaran abu berpotensi mencapai kawasan Teluk Lampung.
Prakirawan BMKG Radin Inten Lampung Yoyok Dewantoro mengatakan perubahan arah sebaran abu tersebut dipengaruhi oleh kondisi angin pada lapisan atmosfer.
"Untuk kondisi siang ini, berdasarkan analisis citra satelit, sebaran abu vulkanik lebih mengarah ke barat daya sehingga cenderung menjauh dari wilayah Lampung. Sebelumnya pada pagi hari, sebaran bergerak ke barat laut dan berpotensi memengaruhi wilayah Teluk Lampung," katanya, Rabu (9/9/2026).
Yoyok mengatakan arah sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi angin pada ketinggian yang berbeda. Karena itu, masyarakat diminta tetap memantau perkembangan terbaru dari BMKG dan PVMBG.
"Perubahan arah sebaran ini sangat bergantung pada pola dan kecepatan angin. Jadi masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi terbaru karena arah sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu," ujarnya.
Analisis Himawari-9 juga menunjukkan terdapat sebaran abu vulkanik pada ketinggian hingga sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer. Pada lapisan tersebut, sebaran terpantau bergerak ke arah barat laut dan mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.
BMKG mengingatkan sebaran abu vulkanik pada lapisan tersebut tetap berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah yang dilalui.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau memastikan informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui sumber resmi BMKG, PVMBG, serta instansi terkait lainnya.
BMKG Lampung juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi udara dan jarak pandang, terutama apabila terjadi perubahan sebaran abu vulkanik.
