Beruang yang berkeliaran di sekitar permukiman warga di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, hingga kini belum tertangkap. Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel bersama pemerintah setempat telah memasang perangkap besi.
Lurah Lubuk Binjai Mustaqim mengatakan pihaknya bersama BKSDA telah memasang perangkap pada Sabtu (5/9/2026). Pemasangan dilakukan setelah warga kembali melaporkan keberadaan beruang tersebut di sekitar permukiman.
"BKSDA sudah datang Sabtu kemarin, kami dampingi ke lokasi. Kemudian kami dan pihak BKSDA sudah memasang perangkap," ujarnya, Selasa (8/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mustaqim menyebut perangkap tersebut akan terus dipantau oleh warga. BKSDA juga meminta makanan yang dipasang sebagai umpan diganti apabila sudah habis.
"Kalau makanan di perangkap itu habis disuruh ganti dengan buah nangka yang baru. Perangkap itu nanti bakal dipantau selama satu bulan. Kalau sebulan tidak ada informasi berarti beruang tersebut sudah pergi dari kawasan itu," katanya.
Namun sejak perangkap dipasang, Mustaqim mengatakan belum ditemukan tanda-tanda beruang masuk ke dalam perangkap. Warga justru kembali melaporkan melihat seekor anak beruang di kawasan tersebut.
"Setelah pemasangan perangkap, belum ada tanda-tanda dia datang ke sana, tapi kemarin ada info dari warga juga terlihat anak beruang di sana. Tidak masuk perangkap, cuma terlihat saja," jelasnya.
Mustaqim menyebut anak beruang yang terlihat warga masih berukuran kecil. Berdasarkan pengamatan sementara, satwa tersebut diduga merupakan beruang madu.
"Anak beruang itu satu ekor, masih kecil. Sepertinya jenis beruang madu. Kalau yang kemarin keluar dari hutan dan berkeliaran memang jenis beruang madu," ungkapnya.
Ketua RT 05 Ramon mengatakan keberadaan beruang masih membuat masyarakat resah. Sebelumnya pihaknya juga telah mencoba memasang perangkap setelah beruang kembali terlihat di sekitar lokasi.
"Masih, berkeliaran di sana terus dia. Kemarin sempat dipasang perangkap, cuma belum terjebak. Kemarin rombongan lurah dan BKSDA yang masang," katanya.
Menurut Ramon, sejak kemunculan terakhir beruang tersebut memang belum kembali ditemukan adanya kerusakan. Namun, warga tetap khawatir satwa liar itu sewaktu-waktu dapat menyerang masyarakat.
"Meskipun begitu, tidak ada pengrusakan lagi sejak yang kemarin. Takutnya hewan itu menyerang warga," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumsel Yusmono mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab beruang tersebut turun dari kawasan hutan dan masuk ke area permukiman warga.
"Petugas sudah melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Jenisnya beruang madu. Sudah dipasang perangkap dan akan dipantau," tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, seekor beruang dilaporkan keluar dari kawasan hutan dan berkeliaran di dekat permukiman warga Kelurahan Lubuk Binjai sejak Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.
Beruang tersebut diduga keluar dari kawasan hutan karena kondisi cuaca panas dan musim kemarau. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga diduga menjadi salah satu faktor yang membuat satwa tersebut mencari sumber air atau makanan hingga mendekati permukiman warga.
