Catatan Erupsi Gunung Anak Krakatau: dari 1927 hingga September 2026

Catatan Erupsi Gunung Anak Krakatau: dari 1927 hingga September 2026

Melati Putri Arsika - detikSumbagsel
Minggu, 06 Sep 2026 23:00 WIB
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi lagi hari ini
Ilustrasi Gunung Anak Krakatau erupsi. (Foto: Dok. PVMBG)
Lampung -

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September 2026, menjadi catatan geologi terbaru dari gunung api aktif di Selat Sunda tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa aktivitas erupsi dan pelepasan abu vulkanik masih berlangsung hingga Minggu, 6 September 2026, pukul 04.00 WIB.

Saat ini, tingkat aktivitas gunung api yang terletak di Selat Sunda tersebut telah berada pada Status Level III (Siaga). Penetapan status ini menandakan terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik yang nyata dan terus bergerak menuju atau sedang dalam fase erupsi berkelanjutan.

Mengenal Profil Gunung Anak Krakatau

Dilansir laman resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif Tipe A yang terletak di perairan Selat Sunda, secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Kemunculan gunung ini memiliki keterkaitan sejarah yang erat dengan letusan katastrofis Gunung Krakatau Purba pada tahun 1883 silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses terbentuknya tubuh gunung ini memakan waktu yang cukup panjang di dasar laut. Mengutip studi berjudul Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan Katastrofis 1883 karya Igan Supriatman Sutawidjaja dalam Jurnal Geologi Indonesia Vol. 1 No. 3 September 2006, posisi bakal tubuh Gunung Anak Krakatau awalnya berada di dasar laut dan sempat mengalami fase istirahat panjang pascaletusan 1883.

Fase istirahat atau dormansi tersebut berlangsung selama 43 tahun, terhitung sejak tahun 1884 hingga Desember 1927 tanpa mencatatkan aktivitas letusan ke permukaan.

ADVERTISEMENT
  • Erupsi Bawah Laut Pertama (29 Desember 1927): Terjadi letusan pertama dari dasar laut yang mengeluarkan semburan material seperti air mancur hingga 15 Januari 1929.
  • Kelahiran Tubuh Gunung (11 Juni 1929): Muncul ke permukaan laut dari kedalaman 180 meter dan ditetapkan sebagai tanggal kelahiran resmi Anak Krakatau.
  • Puncak Ketinggian Pra-Longsor (September 2018): Mencapai ketinggian ±338 mdpl dengan karakter letusan Strombolian dan lelehan lava efusif.
  • Longsoran dan Tsunami Selat Sunda (22 Desember 2018): Sebagian tubuh gunung runtuh ke laut, memicu tsunami meluas yang menghantam pesisir Banten dan Lampung.
  • Erupsi Klaster Abu Vulkanik (4-6 September 2026): Erupsi beruntun mencapai ketinggian 50.000 kaki, menyebarkan abu ke Jakarta, Banten, Jabar, hingga Lampung.

Sejarah Erupsi Pertama dan Kelahiran Anak Krakatau

Aktivitas erupsi pertama Gunung Anak Krakatau tercatat pada 29 Desember 1927 berupa letusan dari bawah laut yang memancarkan semburan material vulkanik menyerupai air mancur. Rangkaian letusan bawah laut ini berlangsung terus-menerus hingga 15 Januari 1929.

Semburan material yang intensif tersebut secara perlahan mendorong pembentukan endapan vulkanik hingga muncul melampaui permukaan air laut dari kedalaman awal 180 meter.

Pemerintah dan lembaga geologi kemudian menetapkan tanggal 11 Juni 1929 sebagai momen kelahiran Gunung Anak Krakatau. Sejak saat itu, gunung ini secara konsisten memasuki fase konstruksi atau proses membangun fisik tubuh gunung secara alami.

Catatan Erupsi Periode 2016 hingga Tsunami 2018

Anak Krakatau merupakan bagian dari 129 gunung api aktif di Indonesia yang mengalami fase pertumbuhan fisik tergolong cepat. Laju pertumbuhan ini didorong oleh frekuensi letusan berkala yang diperkirakan terjadi sebanyak 1 hingga 6 kali dalam setahun.

Sebelum erupsi September 2026, aktivitas vulkanik signifikan sempat tercatat pada 20 Juni 2016, yang kemudian disusul oleh letusan bertipe Strombolian pada 19 Februari 2017. Satu tahun berselang, gunung ini memasuki periode erupsi panjang yang dimulai sejak 29 Juni 2018.

Pada September 2018, ketinggian puncak Gunung Anak Krakatau sempat terukur mencapai 338 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karakteristik erupsinya saat itu didominasi oleh letusan magmatik eksplosif lemah (Strombolian) serta erupsi efusif berupa lelehan aliran lava cair.

Namun, akumulasi material konstruksi tersebut mengalami keruntuhan masif pada akhir tahun. Pada 22 Desember 2018, aktivitas vulkanik intensif menyebabkan flank collapse atau longsornya sebagian besar tubuh gunung ke dalam laut.

Volume material runtuhan yang sangat besar tersebut seketika memicu gelombang tsunami di Selat Sunda yang menghantam wilayah pesisir Banten dan Lampung, menyisakan catatan sejarah kelam dalam memori bencana geologi Indonesia.

Catatan Aktivitas Anak Krakatau Tahun 2023

Berdasarkan data histori dari situs resmi Magma Indonesia, hingga tanggal 28 November 2023, Gunung Anak Krakatau telah mencatatkan sedikitnya 85 kali kejadian letusan. Frekuensi letusan paling intensif dalam sejarah modernnya terjadi pada tahun 1993 dan 2011, di mana letusan terjadi hampir setiap hari.

Kendati memiliki frekuensi letusan harian yang tinggi pada periode aktif, Gunung Anak Krakatau juga memiliki siklus fase istirahat berdurasi antara 1 hingga 8 tahun.

Jeda fase istirahat berkala ini berfungsi menurunkan akumulasi tekanan magma sekaligus mengurangi intensitas letusan untuk sementara waktu sebelum kembali memasuki siklus aktif berikutnya.

Catatan Erupsi Terbaru September 2026

Rangkaian erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau kembali terjadi sejak Jumat malam, 4 September 2026, dengan melontarkan kolom abu vulkanik pekat ke udara. Dilansir detikNews, BMKG melaporkan bahwa per pukul 04.00 WIB, Minggu (6/9/2026), sebaran abu vulkanik telah terbagi ke dalam dua klaster utama:

  • Klaster Pertama: Tersebar ke arah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dengan ketinggian sebaran mencapai 20.000 kaki.
  • Klaster Kedua: Mencakup wilayah Banten, Lampung, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten. Sebaran ini teramati dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki ke arah barat daya-barat laut.

Untuk memantau perkembangan aktivitas secara real-time, pemerintah mengoperasikan dua pos pengamatan gunung api (PGA), yakni Pos PGA Kalianda di Kabupaten Lampung Selatan dan Pos PGA Pasauran di Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Kedua pos ini bertugas mengamati dan mencatat seluruh dinamika aktivitas Gunung Krakatau.

Masyarakat dan pembaca detikers diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi kebencanaan serta rilis resmi BMKG dan PVMBG demi menjaga kesiapsiagaan di wilayah terdampak.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat"
[Gambas:Video 20detik] (mep/mep)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads