Jambi

Titik Api Karhutla Jambi Berkurang Drastis, BNPB RI Minta Tetap Waspada

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Kamis, 03 Sep 2026 15:30 WIB
Foto: Kepala BNPB RI saat paparan soal karhutla Jambi usai peninjauan udara (Dok. Istimewa)
Jambi -

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memastikan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi menunjukkan perkembangan positif. Jumlah titik api dan luasan lahan yang terbakar disebut terus menurun.

"Untuk awal September ini memang jumlah luas lahan terbakar di Jambi semakin berkurang atau sudah banyak padam. Ini juga bentuk kerjasama baik tim Satgas Karhutla Provinsi Jambi yang terus aktif dalam pemadaman baik darat dan udara," kata Suharyanto, Kamis (3/9/2026).

Suharyanto meninjau lahan terbakar di Jambi lewat pantauan udara pada Rabu (2/9). Bersama Menteri Kehutanan Raja Juli dan Gubernur Jambi Al Haris, dia melihat langsung bahwa Satgas Karhutla Jambi sangat aktif dalam langkah pemadaman.

"Dari data yang ada saat ini, luas lahan yang terbakar per hari Selasa kemarin itu hanya mencapai 13 hektare lagi ya," ujar Suharyanto.

Meski demikian, Suharyanto belum memastikan seluruh titik api telah benar-benar aman. Petugas masih melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

Suharyanto mengatakan pemantauan dilakukan melalui patroli darat dan udara. Data titik panas yang terdeteksi satelit juga harus diverifikasi langsung di lapangan.

"Hari ini juga akan dilakukan patroli untuk memantau titik api baru. Berdasarkan data fire spot dari Kementerian Kehutanan, setiap titik panas kemudian dipastikan di lapangan melalui patroli untuk memastikan apakah benar karhutla atau sumber panas lain," sebut dia.

Dalam patroli udara, tim menemukan satu titik yang diduga merupakan kebakaran baru. Namun, titik tersebut masih dalam skala kecil. Menurut Suharyanto, pola pemantauan tersebut penting untuk mengetahui perkembangan luasan karhutla dari hari ke hari.

"Ini teknik yang digunakan untuk memonitor, mengetahui seberapa luas lahan terbakar harian dan jadi setiap hari data-data bisa terpantau secara real time," katanya.

Dia menjelaskan titik panas yang ditangkap satelit tidak seluruhnya berarti kebakaran hutan dan lahan. Sumber panas lain seperti kompor, pembakaran sampah maupun aktivitas industri juga dapat terdeteksi sebagai hotspot.

Karena itu, verifikasi lapangan menjadi bagian penting sebelum titik panas tersebut dinyatakan sebagai karhutla.

"Data hotspot dari satelit bisa mencakup semua sumber panas, termasuk kompor, pembakaran sampah, hingga panas dari pabrik. Untuk meyakinkan apakah itu karhutla, itu harus dicek secara fisik melalui patroli udara atau darat," jelasnya.

Suharyanto meminta Satgas Karhutla Jambi tidak mengurangi kewaspadaan meski jumlah titik api dan luasan kebakaran mulai menurun. Sebab, September merupakan periode yang perlu diwaspadai karena Jambi masih menghadapi puncak musim kemarau.

"Tim darat dan udara harus bersama-sama memadamkan karhutla yang terjadi di wilayahnya," tegas Suharyanto.



Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"

(dai/dai)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork