Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai dirasakan masyarakat Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Berdasarkan pantauan kualitas udara oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lubuklinggau, indeks standar pencemar udara (ISPU) saat ini mencapai angka 160 atau masuk kategori tidak sehat.
Kepala DLH Lubuklinggau Ardi Irawan mengatakan berdasarkan acuan nasional, ISPU pada rentang 101-200 masuk kategori tidak sehat.
"Untuk di Sumsel, Kota Lubuklinggau masuk di nomor 5 dengan kualitas udara tidak sehat. Kondisi ini dapat merugikan manusia maupun kelompok sensitif," katanya, Kamis (27/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ardi, kondisi kabut asap di Lubuklinggau saat ini turut dipengaruhi asap dari wilayah Kabupaten Musi Rawas, terutama Kecamatan TPK dan Durian Remuk.
"Meskipun untuk kualitas udara, Kabupaten Musi Rawas di nomor 5 atau di angka sekitar 159. Tapi dampak asapnya ke kita yang menyebabkan kita berada di nomor 5 juga," ungkapnya.
Ardi mengatakan pihaknya telah menyampaikan sejumlah saran kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan untuk mengantisipasi dampak kualitas udara yang tidak sehat di Lubuklinggau.
Beberapa saran tersebut meliputi penyesuaian kegiatan sekolah, penguatan layanan kesehatan, imbauan penggunaan masker, larangan dan pengendalian pembakaran lahan, serta pembatasan aktivitas yang menghasilkan emisi.
"Nanti mereka yang menentukan, langkah apa yang diambil mengingat hasil pantauan kualitas udara kita saat ini masuk dalam kategori tidak sehat," ungkapnya.
Selain itu, DLH Lubuklinggau juga mengimbau masyarakat agar tidak bermain-main dengan api selama musim kemarau seperti tidak membakar lahan, kebun, maupun sampah sembarangan.
"Hati-hati membakar lahan, kebun dan sampah sembarangan. Kami tekankan, sampah untuk saat ini jangan dibakar, tapi cukup dibuang ke kontainer sampah yang sudah kami siapkan biar petugas kami angkut ke TPA Binjai," imbaunya.
Sementara itu, Kabid Penanggulangan Bencana DPKPPB Lubuklinggau Suryo Amrinata mengatakan terdapat 14 kejadian karhutla di Lubuklinggau sejak Januari hingga Agustus 2026.
"Total ada 14 kejadian, namun puncaknya di bulan Agustus di mana ada 11 kejadian kebakaran lahan," ungkapnya.
Suryo mengatakan luas lahan yang terbakar bervariasi, mulai dari 0,1 hektare hingga seperempat hektare. Suryo mengatakan penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan, namun kondisi kemarau panjang dinilai menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi kebakaran.
"Menurut perkiraan BMKG, memang puncak kemarau di Agustus sampai September 2026. Sejauh ini penyebab kebakaran lahan di kita ya kemungkinan besar puntung rokok atau ketidaksengajaan dari warga. Karena mayoritas lahan yang terbakar itu lahan yang berada di pinggir jalan," jelasnya.
Suryo mengingatkan masyarakat agar berhati-hati membuang puntung rokok, sampah maupun benda lain yang berpotensi menimbulkan api. Kondisi lahan yang kering akibat kemarau panjang membuat potensi kebakaran semakin tinggi.
"Tetap jaga lingkungan, jika ada semak belukar dipangkas bukan dibakar. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar dan tidak membakar sampah. Sebaiknya saat ini sampah dikumpul dan dibuang di tempat sampah," ujarnya.
