Kabut asap pekat mulai menyelimuti Kota Jambi, Jambi, Minggu (23/8/2026), siang ini. Sejumlah warga Kota Jambi mulai mengeluhkan kekhawatiran adanya kabut asap ini.
Berdasarkan pantauan dari aplikasi Info BMKG, kualitas udara di Kota Jambi berada di ambang tidak sehat mulai pukul 10.00 WIB. Konsentrasi partikulat (PM2.5) berada di 75,8.
Kabut asap juga menyelimuti ruas jalan di dalam Kota Jambi. Meski demikian, kabut asap kali ini belum mengganggu jarak pandang bagi pengendara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dari pantauan di Taman Tanggo Rajo dan sekitar Jembatan Gentala Arasy sekira pukul 11.30 WIB, kabut asap kian terlihat pekat jika memandang ke arah seberang Sungai Batanghari. Namun, pekatnya kabut, belum menghambat aktivitas masyarakat di sekitar sungai.
Tika, salah satu warga yang berada di sekitar lokasi mengeluhkan adanya kabut asap ini. Dia khawatir kabut tersebut semakin tebal.
"Bau asapnya sangat terasa sekali. Apalagi semakin siang ini, semakin pekat," ujarnya, Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat dirinya lebih memilih berada di dalam rumah. Ia berharap pemerintah segera mengetahui sumber kabut asap dan melakukan penanganan jika berasal dari kebakaran lahan di Jambi.
"Kalau lihat kondisi seperti sekarang, sepertinya memang harus banyak di rumah, kalau pun ke luar wajib pakai masker. Ini keluar kebetulan lagi cari makan," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan warga Kenali Asam Bawah, Kota Jambi, Gesang (28). Pria yang merupakan guru MTS di Kabupaten Batang Hari itu, mengatakan kondisi udara yang berkabut membuat perjalanan menggunakan sepeda motor menjadi kurang nyaman.
Apalagi, sehari-hari dia bekerja menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh yang cukup jauh menuju tempatnya mengajar.
"Dari rumah ke sekolah 3 jam, pulang 3 jam. Total 6 jam menerobos asap sambil motoran. Saya berharap kabut asap tahun ini tidak berlansung lama," katanya.
Dia berharap kabut asap tidak berlangsung lama dan masyarakat turut menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan.
"Kita pastinya khawatir seperti bencana kabut asap 2015 dan 2019," ujarnya.
