Di tengah pesatnya pembangunan Kota Palembang, masih ada sekolah negeri yang berjuang dengan keterbatasan. Inilah SMP Negeri 61 Palembang. Berada di tengah permukiman padat dan berdekatan dengan pasar tradisional hingga kini belum bisa diakses kendaraan roda empat.
Untuk menuju sekolah, siswa harus melewati lorong di tengah lorong sempit di tengah perkampungan warga. Bahkan, kompleks sekolah juga dibelah jalan yang setiap hari menjadi akses masyarakat beraktivitas.
Dari akses utama melalui Pasar PT Ali maupun Lorong Syailendra, siswa masih harus berjalan kaki sekitar 200 hingga 400 meter sebelum tiba di sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mobil memang tidak bisa masuk. Motor juga cukup sulit karena jalannya sempit dan sering berpapasan dengan warga maupun orang tua yang mengantar anak," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 61 Palembang, Muhammad Zainuddin, saat ditemui detikSumbagsel, Selasa (4/8/2026).
Sulitnya akses menuju sekolah juga berdampak pada berbagai aktivitas. Setiap barang yang datang ke sekolah harus dipindahkan dari ujung lorong karena kendaraan roda empat tidak dapat mencapai halaman sekolah.
Salah satunya program MBG, agar MBG bisa disalurkan ke SMPN 61, beberapa siswa laki-laki harus mengangkut puluhan ompreng agar bisa tiba di sekolah.
Para siswa harus berjalan sekitar 200 hingga 300 meter untuk mengambil dan mengangkut MBG agar bisa dibagikan dan nikmati oleh siswa lainnya. Dan baru satu Minggu ini pihak SPPG menyediakan gerobak untuk mengangkut MBG ke sekolah.
Potret SMP Negeri 61 Palembang Foto: Welly Jasrial Tanjung |
SMP Negeri 61 Palembang berdiri pada pertengahan 2021 dan menjadi salah satu sekolah negeri termuda di Kota Palembang. Awalnya sekolah ini masih bergabung dengan SD Negeri 68 sebelum akhirnya menempati gedung hibah.
Namun hingga kini, sekolah masih kekurangan ruang belajar sehingga proses belajar mengajar harus dibagi menjadi dua sif. Sebanyak delapan rombongan belajar masuk pada pagi hari dan delapan rombongan belajar lainnya belajar pada siang hari.
"Kami kekurangan ruang kelas sehingga belajar harus dibagi shift pagi dan siang," ujarnya.
Keterbatasan ruang membuat sekolah belum memiliki laboratorium komputer, perpustakaan permanen, gudang, ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS),ruang bimbingan konseling (BK) maupun lapangan olahraga.
Bahkan, satu ruang kelas terpaksa dialihfungsikan menjadi perpustakaan. Sementara gudang juga memanfaatkan ruang kelas sehingga mengurangi ruang belajar siswa.
Akibat tidak memiliki gudang, kursi dan meja cadangan diletakkan di ruang terbuka di lingkungan sekolah.
Pantauan detikSumbagsel, di sela-sela bangunan sekolah masih terdapat lahan rendah yang kerap tergenang saat hujan turun. Kondisi tersebut membuat lingkungan sekolah menjadi becek dan mengganggu aktivitas siswa di saat musim hujan.
Di bagian belakang sekolah juga terdapat bangunan yang mangkrak sejak 2023. Bangunan yang semula diproyeksikan menjadi ruang kelas baru itu kini mulai mengalami kerusakan akibat rembesan air hujan.
Potret SMP Negeri 61 Palembang Foto: Welly Jasrial Tanjung |
Sekolah juga belum memiliki lapangan olahraga yang layak. Halaman yang digunakan siswa masih berupa tanah timbunan. Agar dapat digunakan untuk berolahraga, para siswa bersama orang tua berinisiatif membawa pecahan batu bata sedikit demi sedikit untuk menutup permukaan tanah.
"Itu murni inisiatif anak-anak bersama wali murid supaya halaman bisa dipakai olahraga," kata Zainuddin.
Selain itu di belakang gedung sekolah yang mangkrak pembangunannya terdapat Tempat Pemakaman Umum (TPU). Jadi kalau ada yang meninggal warga harus melewati sekolah karena satu-satunya akses jalan menuju TPU.
Keterbatasan lainnya tampak saat pelaksanaan upacara bendera. Hingga kini, tiang bendera di SMP Negeri 61 Palembang masih menggunakan batang bambu karena belum memiliki tiang permanen.
Persoalan keamanan juga menjadi perhatian sekolah. Sebelum pembangunan pagar dimulai sekitar satu bulan lalu, lingkungan sekolah terbuka sehingga rawan pencurian.
Pada 2024, sekitar tujuh hingga delapan pintu toilet berbahan aluminium hilang dicuri. Selain itu, sejumlah tanaman penghijauan yang ditanam di lingkungan sekolah juga beberapa kali hilang. Kasus pencurian pintu toilet telah dilaporkan ke pihak kepolisian.
Saat ini pembangunan pagar tengah berlangsung. Pihak sekolah berharap pembangunan itu dapat meningkatkan keamanan sekaligus melindungi aset sekolah.
Selain itu, sekolah juga berharap pemerintah dapat melanjutkan pembangunan gedung yang mangkrak serta melengkapi berbagai sarana yang hingga kini belum dimiliki, mulai dari ruang kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, gudang, UKS, hingga lapangan olahraga.
"Kami berharap sekolah ini memiliki sarana dan prasarana yang lebih memadai agar anak-anak bisa mengembangkan potensi dan meraih prestasi secara optimal," ungkap Zainuddin.
Ditambahkan Zainuddin, meski SMPN 61 memiliki banyak keterbatasan, namun siswa dan siswinya berprestasi. Beberapa perlombaan dimenangkan oleh siswa SMPN 61 dan mendapat juara 1.
"Walau sekolah kami banyak keterbatasan tapi siswa kami memilikiprestasi yang dapat kami banggakan," pungkasnya.


