Jumlah kabupaten/kota yang masuk kategori zona merah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) terus bertambah. Hingga 31 Juli 2026, tercatat sudah sembilan daerah yang mengalami lebih dari 30 kejadian karhutla.
"Sudah sembilan daerah yang masuk dalam kategori zona merah, setelah OKU tercatat mengalami 31 kejadian karhutla," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Minggu (2/8/2026).
Data BPBD Sumsel menunjukkan wilayah Musi Banyuasin (Muba) masih menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni mencapai 93 kejadian. Berikutnya Ogan Ilir dengan 87 kejadian, dan Ogan Komering Ilir (OKI) 85 kejadian.
Lalu, Banyuasin 83 kejadian, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 77 kejadian, Muara Enim 60 kejadian, Palembang 38 kejadian, Musi Rawas Utara (Muratara) 34 kejadian, dan Ogan Komering Ulu (OKU) 31 kejadian.
Selain zona merah, BPBD Sumsel juga mencatat tiga daerah berada di kategori zona oranye atau mengalami 16-30 kejadian karhutla. Ketiga daerah tersebut yakni OKU Timur 29 kejadian, Musi Rawas (Mura) 20 kejadian, dan Prabumulih 18 kejadian.
Sementara itu, lima daerah lainnya masih berada di kategori zona kuning atau mengalami 1-15 kejadian karhutla. Yakni, Lahat 8 kejadian, Empat Lawang 4 kejadian, OKU Selatan 3 kejadian, Lubuklinggau 2 kejadian, dan Pagar Alam 1 kejadian.
"Secara keseluruhan, telah terjadi 678 kejadian karhutla di seluruh wilayah Sumsel sepanjang 2026 hingga 31 Juli," ungkapnya.
"Lonjakan kejadian karhutla terjadi pada Juli dengan 456 kejadian. Angka itu melonjak dibandingkan Juni yang hanya 120 kejadian dan Mei 91 kejadian ketika Sumsel memasuki musim kemarau," sambungnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena kondisi cuaca pada musim kemarau membuat api lebih mudah meluas dan sulit dikendalikan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan karena risikonya sangat besar," tukasnya.
Simak Video "Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027"
(dai/dai)