Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, pedagang bendera musiman mulai bermunculan di sejumlah ruas jalan utama Kota Palembang. Mereka memanfaatkan momentum perayaan kemerdekaan untuk mencari tambahan penghasilan dengan menjajakan bendera, umbul-umbul hingga berbagai atribut bernuansa merah putih.
Pantauan detikSumbagsel, Rabu (29/7/2026), para pedagang terlihat membuka lapak di sejumlah jalan protokol seperti Jalan Merdeka, Jalan Gubernur Haji Bastari, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan Demang Lebar Daun, Jalan Ahmad Yani hingga kawasan OPI Jakabaring. Beragam ukuran bendera dipajang di tepi jalan sehingga menarik perhatian pengguna jalan yang melintas.
Setiap tahunnya, pedagang musiman ini mulai berjualan sejak akhir Juli hingga menjelang 17 Agustus. Sebagian besar dari mereka mengaku hanya mengandalkan momen Hari Kemerdekaan untuk memperoleh tambahan pendapatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang pedagang di kawasan OPI Jakabaring, Hamid (57), mengatakan dirinya baru tiga hari membuka lapak. Meski belum memasuki puncak penjualan, ia menilai minat masyarakat membeli bendera tahun ini mulai menunjukkan peningkatan dibandingkan awal musim penjualan tahun-tahun sebelumnya.
"Baru tiga hari saya berjualan. Memang setiap tahun saya jualan bendera hanya menjelang 17 Agustus. Alhamdulillah, tahun ini lumayan, sudah ada yang beli dan menurut saya lebih ramai dibandingkan awal penjualan tahun sebelumnya," kata Hamid kepada detikSumbagsel, Rabu (29/7/2026).
Hamid mengaku seluruh bendera yang dijualnya berasal dari salah satu toko di Pasar 16 Ilir Palembang. Sistem penjualannya menggunakan titipan barang sehingga apabila masih ada stok yang belum terjual setelah perayaan kemerdekaan, barang tersebut dapat dikembalikan kepada pemasok.
"Barang ini saya ambil dari toko di Pasar 16. Kalau nanti masih ada yang tidak laku, bisa dikembalikan lagi ke toko. Jadi kami jualan musiman saja," ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pembeli, Hamid membawa sekitar 10 karung berisi berbagai jenis atribut kemerdekaan. Isi karung tersebut terdiri dari bendera berbagai ukuran, umbul-umbul, hingga bendera berukuran kecil yang biasa dipasang di kendaraan maupun halaman rumah.
"Kurang lebih saya bawa sekitar 10 karung. Isinya macam-macam, ada bendera ukuran kecil, sedang, besar, umbul-umbul, sampai bendera kecil atau unyil. Pembeli tinggal pilih sesuai kebutuhan," ungkapnya.
Menurut Hamid, harga bendera pada tahun ini masih sama seperti tahun sebelumnya. Harga ditentukan berdasarkan ukuran, jenis bahan, serta model bendera yang dipilih pembeli.
"Tidak ada kenaikan harga tahun ini. Masih sama seperti tahun lalu. Harganya mulai dari Rp10 ribu sampai Rp350 ribu, tergantung ukuran dan kualitas bahannya," jelasnya.
Meski demikian, kondisi penjualan tidak dirasakan sama oleh seluruh pedagang. Di Jalan Ahmad Yani Palembang, seorang pedagang lainnya, Zikky, justru mengaku penjualan tahun ini masih lebih sepi dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Ia mengatakan sudah hampir sepekan berjualan, namun jumlah pembeli yang datang masih relatif sedikit. Dalam sehari, bendera yang berhasil terjual hanya berkisar dua hingga lima lembar.
"Saya sudah hampir seminggu jualan, tapi pembelinya masih sepi. Sehari paling laku dua sampai lima bendera saja. Biasanya kalau sudah masuk akhir Juli atau awal Agustus, pembeli sudah mulai ramai," ujar Zikky.
Menurutnya, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Ia berharap memasuki pekan pertama Agustus penjualan mulai meningkat seiring semakin dekatnya perayaan HUT RI.
"Mudah-mudahan minggu depan sudah mulai ramai. Biasanya orang-orang baru beli mendekati tanggal 17 Agustus untuk dipasang di rumah, kantor atau tempat usaha," tutupnya.
Keberadaan pedagang bendera musiman ini menjadi pemandangan yang selalu hadir menjelang Hari Kemerdekaan. Selain menjadi peluang mencari rezeki, penjualan atribut merah putih juga menandai mulai meningkatnya semangat masyarakat menyambut peringatan kemerdekaan Indonesia.
(dai/dai)
