Tren Hotspot di Sumsel Naik, Tiap Hari Capai Ratusan Titik

Sumatera Selatan

Tren Hotspot di Sumsel Naik, Tiap Hari Capai Ratusan Titik

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Minggu, 19 Jul 2026 18:30 WIB
139 titik hotspot terpantau dari aplikasi Sipongi.
Foto: 139 titik hotspot terpantau dari aplikasi Sipongi. (Dok. BPBD Sumsel)
Palembang -

Jumlah hotspot atau titik panas di Sumatera Selatan (Sumsel), mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, dalam sehari jumlah yang terpantau tembus ratusan titik.

Berdasarkan data BPBD Sumsel, sepanjang 1-18 Juli 2026 tercatat sebanyak 992 hotspot terdeteksi di wilayah Sumsel.

"Kemarin hotspot yang terpantau sebanyak 139 titik. Angka itu yang tertinggi sepanjang Juli ini. Total pada 1-18 Juli ini sudah terdeteksi 992 titik," ujar Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Minggu (19/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudirman mengatakan lonjakan titik panas harus menjadi perhatian, karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seluruh pihak diminta meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya karhutla.

Dari jumlah hotspot harian yang terdeteksi, terbanyak terpantau di wilayah Musi Banyuasin (Muba) 42 titik ( 4 titik di lahan gambut). Lalu di OKI 19 titik (1 titik di gambut) Mura 15 titik, Banyuasin 14 titik (2 titik di gambut), dan 10 titik terpantau di Muara Enim, Muratara, dan OKU Timur. Sementara wilayah lainnya di bawah angka tersebut.

ADVERTISEMENT

Sedangkan dari 922 titik (1-18 Juli), terbanyak terpantau di Muba 213 titik, Muara Enim 133 titik, dan OKI 116 titik. Sementara wilayah lainnya hanya terdeteksi puluhan titik, hanya Lubuklinggau nihil hotspot.

Selain melakukan pemantauan hotspot setiap hari melalui satelit, tim di lapangan juga disiagakan untuk melakukan pengecekan terhadap titik-titik panas yang terindikasi berpotensi menjadi firespot.

"Kami terus memonitor perkembangan hotspot setiap hari. Jika ada titik yang terindikasi menjadi kebakaran, maka akan segera dilakukan pengecekan dan penanganan di lapangan," katanya.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu karhutla, terutama saat kondisi cuaca kering disertai angin. Masyarakat diminta melapor apabila menemukan karhutla, maupun aktivitas pembakaran yang berpotensi menyebabkan karhutla.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads