Ketua Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Teluk Langkap, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi, dianiaya dan mendapat ancaman warganya setelah menolak aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI).
Konflik antara kelompok warga yang menolak dan mendukung aktivitas tambang emas ilegal disebut telah berulang kali terjadi. Di tengah memanasnya situasi, aparat penegak hukum dinilai belum mampu menghentikan praktik penambangan ilegal yang masih berlangsung.
Firdaus Ketua BPD Teluk Langkap menjadi salah satu tokoh desa yang menyuarakan penolakan terhadap PETI. Sikap tegas itu, menurutnya, justru berujung pada aksi kekerasan yang menimpa dirinya dan sang istri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku telah dua kali menjadi korban penganiayaan. Peristiwa terbaru terjadi pada Selasa (14/7/2026), ketika istrinya diduga dijambak dan ditampar oleh warga yang tidak terima dengan penolakan terhadap aktivitas tambang ilegal tersebut.
Tak lama setelah insiden itu, terduga pelaku disebut kembali mendatangi rumah Firdaus. Dalam kejadian tersebut, Firdaus mengaku sempat dicekik dan diancam akan dibunuh.
"Rumah saya dan rumah yang ada di sekeliling atau kawasan rumah saya ini, hanya berjarak 3 meter dari Sungai Batanghari, dan sekarang rakit tambang itu sudah sangat dekat dengan pemukiman, tentu ini mengancam keselamatan kami juga," kata Firdaus, Kamis (16/7/2026).
Firdaus mengatakan telah melaporkan dua kasus penganiayaan yang dialaminya ke pihak kepolisian. Kedua laporan itu disebut berkaitan langsung dengan penolakannya terhadap aktivitas PETI.
"Saya berharap dua laporan penganiayaan ini diusut secara serius oleh Polres Tebo," katanya.
Di sisi lain, sorotan juga muncul terhadap penanganan aparat di lokasi tambang ilegal. Setelah persoalan PETI di Teluk Langkap ramai diperbincangkan, polisi diketahui kembali mendatangi lokasi pada Selasa (14/7/2026).
Namun, menurut warga, kehadiran petugas tidak menghentikan aktivitas tambang. Mesin dompeng disebut tetap beroperasi meski polisi berada di lokasi.
"Kemarin polisi datang, lengkap dari Polres, tak dihiraukan, rakit tetap bekerja. Hilang marwah polisi, mereka diam saja, tidak melakukan apapun," kata seorang warga yang enggan disebut namanya.
Video yang beredar memperlihatkan sejumlah personel kepolisian bersama kendaraan dinas berada di sekitar lokasi tambang. Dalam rekaman itu, rakit-rakit penambang masih tampak beroperasi di Sungai Batanghari.
Warga mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat memicu konflik yang lebih luas apabila tidak segera ditangani secara tegas oleh aparat penegak hukum.
"Kalau polisi sudah tidak mampu, ya bisa saja akan pecah bentrokan yang lebih besar," ujarnya.
Kapolres Tebo AKBP Triyanto mengatakan pihaknya telah menerima laporan dugaan penganiayaan oleh pelaku PETI. Pihaknya masih menyelidiki laporan tersebut.
"Sudah ditangani oleh Satreskrim," kata Triyanto.
