Provinsi Jambi memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung mulai Juli hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut diperparah dengan menguatnya fenomena El Nino yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi mencatat, hingga 22 Juni 2026 luas lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 137,72 hektare. Angka tersebut diperkirakan masih berpotensi bertambah seiring cuaca yang semakin kering dan minimnya curah hujan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan, berdasarkan prakiraan cuaca, puncak musim kemarau akan berlangsung hingga akhir September bahkan Oktober 2026. Kondisi ini membuat seluruh pihak diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini diperkirakan akan berlangsung pada Juli sampai akhir September, bahkan Oktober 2026," kata Bachyuni Deliansyah, Jumat (3/7/2026).
Mengantisipasi meningkatnya ancaman karhutla, Pemerintah Provinsi Jambi telah menyiapkan 81 posko siaga yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota rawan kebakaran. Pembentukan posko dilakukan atas arahan Gubernur Jambi sebagai langkah memperkuat deteksi dini dan percepatan penanganan apabila terjadi kebakaran.
Posko tersebut melibatkan personel lintas sektoral yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, BNPB, Manggala Agni hingga relawan. Masing-masing posko diisi sekitar 10 personel yang dilengkapi peralatan pendukung dan akan beroperasi hingga masa status siaga berakhir pada 31 Oktober 2026.
"Kita membuat 81 posko tersebar di seluruh kabupaten dan kota yang rawan karhutla. Posko ini untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekaligus mempercepat pelaporan apabila terjadi kebakaran ke Posko Induk di Korem 042/Garuda Putih maupun Posko Udara di Bandara Sultan Thaha Jambi," ujarnya.
Selain memperkuat kesiapsiagaan personel, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan juga meningkatkan patroli terpadu, pemantauan titik panas melalui satelit, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Data BPBD menunjukkan, sejak 1 Januari hingga 29 Juni 2026 terdeteksi sebanyak 1.463 titik panas (hotspot) berdasarkan pantauan Satelit Aqua Terra dan Suomi NPP. Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak mencapai 451 titik, disusul Muaro Jambi 339 titik, Sarolangun 199 titik, Merangin 138 titik, Tanjung Jabung Timur 99 titik, Tebo 84 titik, Batang Hari 71 titik, Bungo 53 titik, Kerinci 21 titik, Kota Jambi tujuh titik, dan Sungai Penuh satu titik.
Sementara itu, luas lahan yang terbakar tersebar di enam daerah. Sarolangun menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar mencapai 44,90 hektare, disusul Batang Hari 36,42 hektare, Tanjung Jabung Barat 33,40 hektare, Tanjung Jabung Timur 18,80 hektare, Tebo 2,50 hektare, dan Muaro Jambi 1,70 hektare.
BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan. Di tengah puncak kemarau dan menguatnya fenomena El Nino, api dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan sehingga berpotensi menimbulkan kabut asap serta mengganggu aktivitas masyarakat.
"Kami berharap langkah mitigasi yang dilakukan sejak dini mampu menekan jumlah titik api dan mencegah meluasnya karhutla selama musim kemarau 2026," tutup Deliansyah.
(dai/dai)
