Cuaca panas ekstrem yang terjadi belakangan ini perlu diwaspadai karena dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, salah satunya heat stroke. Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena dapat menyebabkan kerusakan organ hingga mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.
Heat stroke umumnya terjadi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis akibat paparan panas berlebih atau aktivitas fisik berat di lingkungan yang panas. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala, cara penanganan, hingga langkah pencegahannya sejak dini.
Lantas, apa itu heat stroke, apa saja gejalanya, dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut detikSumbagsel rangkum penjelasannya. Yuk Simak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Heat Stroke?
Melansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Heat Stroke adalah suatu kondisi yang ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh hingga mencapai lebih dari 40 derajat Celsius disertai disfungsi pada sistem saraf.
Diketahui Heat Stroke ada dua jenis, yakni:
- Exertional Heat Stroke (EHS), terjadi akibat aktivitas fisik berat atau olahraga intensif dalam jangka waktu lama, terutama di lingkungan yang panas dan lembab.
- Non Exertional/ Classic Heat Stroke, terjadi karena paparan suhu lingkungan yang sangat tinggi dalam jangka waktu lama, tanpa aktivitas fisik yang berat.
Salah satu tanda dari heat stroke adalah peningkatan suhu tubuh yang tidak normal. Suhu tubuh yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh dan kerusakan pada organ secara bersamaan. Oleh karena itu, kedua kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah kerusakan organ vital.
Apa Saja Gejala Heat Stroke?
Berikut beberapa gejala yang menandakan seseorang terindikasi terkena Heat Stroke:
- Suhu tubuh meningkat 40 C atau lebih
- Berhenti berkeringat atau tidak berkeringat saat suhu tubuh sedang tinggi
- Kulit merah, panas, dan KERING (pada heatstroke klasik, sering tidak berkeringat meski suhu tinggi).
- Kulit memerah dan terasa panas saat disentuh
- Perubahan status mental atau perilaku : seperti kebingungan, Gelisah, Cepat Marah, Bicara Cadel
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Jantung berdebar
- Kelemahan otot atau kelelahan
- Kejang dan pingsan hingga koma
Jika detikers mengalami hal-hal seperti di atas, diimbau jangan diabaikan dan segera lakukan pemeriksaan.
Faktor Risiko Terkena Heat Stroke
Mengutip dari laman Rumah Sakit Pusat Hermina, beberapa faktor dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap heatstroke:
- Usia: Bayi, balita, dan lansia di atas 65 tahun lebih rentan karena sistem regulasi suhu tubuh mereka kurang efisien.
- Aktivitas Fisik: Melakukan kerja berat atau olahraga intens di cuaca panas.
- Kondisi Kesehatan Kronis: Obesitas, penyakit jantung, paru-paru, ginjal, dan diabetes.
- Pengobatan Tertentu: Obat-obatan seperti diuretik, beta-blocker, antihistamin, dan beberapa obat untuk gangguan jiwa dapat mengganggu kemampuan tubuh mengatur suhu.
- Paparan Mendadak: Terpapar cuaca panas yang tidak biasa tanpa proses aklimatisasi.
- Lingkungan: Tinggal di daerah perkotaan dengan efek "heat island" (pulau panas) dan kurangnya ventilasi atau AC di rumah.
Langkah Darurat dan Medis Menangani Heatstroke
Penanganan segera dan prosedur medis intensif menjadi kunci utama dalam menyelamatkan korban sengatan panas guna mencegah kerusakan organ permanen. Jika pasien telah berada di Instalasi Gawat darurat (IGD), maka penanganan secepatnya akan dilakukan oleh tim medis.
1. Lakukan Pertolongan Pertama
Tindakan penyelamatan harus segera dilakukan dengan mengevakuasi korban ke area yang sejuk, melepas pakaian yang menghalangi penguapan, serta menurunkan suhu tubuh seperti (menggunakan air, kompres es atau mengipasi pada titik nadi yakni area ketiak dan selangkangan. Sangat penting untuk tidak memaksa korban minum apabila mereka dalam kondisi tidak sadarkan diri atau mengalami mual hebat.
2. Prosedur Penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Tenaga medis akan memprioritaskan penurunan suhu inti tubuh melalui serangkaian tindakan klinis berikut:
- Metode Perendaman: Memasukkan tubuh korban ke dalam bak berisi air es untuk pendinginan instan.
- Teknik Evaporasi (penguapan): Mengombinasikan semprotan air dingin dengan embusan kipas angin besar guna mempercepat pelepasan panas melalui kulit.
- Alat Pendingin Khusus: Penggunaan selimut medis yang dialiri air dingin secara terus-menerus.
- Tindakan Internal: Pada kondisi kritis, prosedur irigasi cairan dingin dilakukan langsung ke dalam lambung atau rongga perut.
- Intervensi Farmakologi: Pemberian obat-obatan untuk mengontrol kejang serta menjaga stabilitas kondisi vital pasien.
- Observasi Ketat: Pengawasan nonstop terhadap suhu inti dan deteksi dini potensi kegagalan fungsi organ.
3. Fase Pemulihan dan Pasca-Stabilisasi
Setelah kondisi suhu tubuh terkendali, pasien akan menjalani masa observasi untuk memantau munculnya komplikasi jangka pendek. Bergantung pada tingkat keparahan serangan, pasien mungkin diperbolehkan pulang atau diwajibkan menjalani rawat inap lanjutan untuk pemulihan total.
Cara Mencegah Heat Stroke
Mencegah jauh lebih efektif daripada mengobati heatstroke, mengingat proses pemulihannya yang memakan waktu lama. Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk meminimalkan risiko:
1. Hidrasi yang Cukup dan Tepat: Tingkatkan konsumsi air putih tanpa menunggu haus. Gunakan minuman elektrolit jika melakukan aktivitas berat yang memicu keringat berlebih untuk menggantikan garam dan mineral yang hilang.
2. Hindari Puncak Panas: Batasi kegiatan luar ruangan antara pukul 11.00 - 15.00 WIB. Geser jadwal aktivitas fisik ke pagi atau sore hari.
3. Gunakan Pakaian yang Tepat: Gunakan pakaian berbahan ringan (katun), longgar, dan berwarna terang. Lengkapi dengan topi lebar serta tabir surya dengan SPF tinggi.
4. Kondisikan Lingkungan: Manfaatkan AC, kipas angin, atau mandi air dingin. Jika suhu ruangan terlalu tinggi, berlindunglah di tempat umum yang sejuk.
5. Larangan Meninggalkan Orang di Mobil: Jangan meninggalkan siapa pun di dalam mobil terparkir meski kaca terbuka sedikit, karena suhu kabin bisa meningkat drastis ke level mematikan dalam hitungan menit.
Itulah penjelasan mengenai gejala heat stroke lengkap dengan cara penanganan dan pencegahannya saat cuaca panas. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi darurat medis apabila tidak segera ditangani dengan tepat.
Oleh sebab itu, detikers disarankan menjaga asupan cairan tubuh, menghindari paparan panas berlebih, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala heat stroke.
Dengan penanganan cepat dan langkah pencegahan yang tepat, risiko komplikasi serius dapat diminimalkan. Semoga bermanfaat.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(dai/dai)











































