Mimpi Merantau Aldi Bersama Istri dan Anak Berakhir di Bus ALS yang Terbakar

Sumatera Selatan

Mimpi Merantau Aldi Bersama Istri dan Anak Berakhir di Bus ALS yang Terbakar

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Jumat, 08 Mei 2026 07:30 WIB
Hambali salah satu keluarga korban Bus ALS terbakar usai tabrakan dengan truk tangki BBM
Hambali salah satu keluarga korban Bus ALS terbakar usai tabrakan dengan truk tangki BBM (Foto: Welly Jasrial Tanjung)
Palembang -

Asap rokok tak henti mengepul dari tangan Hambali (43). Di bawah tenda ruang tunggu keluarga RS Bhayangkara RS Moh Hasan Palembang, lelaki asal Way Tubasri, Kabupaten Way Kanan, Lampung itu, duduk dengan tatapan kosong.

Sesekali ia menunduk, lalu menatap langit-langit tenda yang bergoyang pelan diterpa angin siang.

Di genggamannya, sebuah telepon seluler terus ia pegang. Namun, tak ada lagi kabar yang ia tunggu selain satu kepastian yakni nasib anak, menantu, dan cucunya yang menjadi korban kecelakaan maut Bus ALS di Jalinsum Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak mendengar kabar Bus ALS terbakar setelah bertabrakan dengan truk tangki minyak pada Rabu (6/5/2026), Hambali bersama besan dan saudaranya berangkat dari Desa Talang Kangkung, Kecamatan Way Tubasri, Kabupaten Way Kanan, Lampung.

"Tadi pagi sampai langsung ke kamar jenazah dan baru keluar pukul 11.30 WIB," katanya, Kamis (7/5/2026).

ADVERTISEMENT

Ayah korban mengaku, di dalam bus nahas tersebut ada anaknya Agustina Maharani (24), menantunya Aldi Setiawan (26), dan cucunya Bela berusia satu tahun delapan bulan.

"Mereka ini mau pergi ke Pekanbaru Riau, untuk merantau bekerja di kebun sawit diajak keluarga di sana," ujarnya.

Hambali mengatakan, sebelumnya Aldi bekerja di kampung serabutan. Lalu, ia diajak keluarga untuk mengadu nasib bekerja di kebun sawit, Pekanbaru Riau.

"Baru dua hari membangun rumah, saya bantu-bantu membeli material, ternyata mereka bilang mau pergi merantau ke Pekanbaru untuk bekerja di sana (Pekanbaru)," ujarnya.

Setelah itu, pada hari Minggu (3/5/2026) mereka membeli tiket Bus Handoyo tapi ternyata ketinggalan. Lalu Senin juga masih belum berangkat, Selasa malam masih belum berangkat.

"Jadi berangkat Selasa pagi. Mereka diantar besan saya. Tiba-tiba saya lihat di berita dan media sosial Bus ALS kecelakaan, saya cek nomor busnya dan ternyata itu bus yang ditumpangi Rani dan suami serta cucu saya," katanya sedih.

Ia bercerita, sebelum mereka berangkat tidak ada firasat. Hanya saja, mereka sudah membangun rumah tadi, tapi tiba-tiba ingin pergi merantau.

"Saya itu sedih ingat cucu, cucu pertama dari anak pertama saya," ujarnya.

Hambali mengatakan jika proses pemeriksaan ini sudah selesai ketiganya akan dibawa ke kampung halaman di Way Kanan untuk dikuburkan bersama.

"Kami masih menunggu kapan bisa dibawa pulang jenazah almarhum ini," ujarnya.

Di sudut lain posko keluarga korban, Kamdi (45), paman Rani, juga menahan duka. Baginya, Aldi bukan hanya sosok pekerja keras, tetapi kepala keluarga muda yang sedang berusaha membangun masa depan.

Beberapa bulan terakhir, Aldi mulai mencicil mimpi membangun rumah sederhana untuk keluarganya.

"Karena saya bisa tukang bangunan, saya bantu belikan pasir dan semen. Aldi sempat cetak batako sekitar 200 buah," kata Kamdi.

Batako-batako itu kini masih tersusun di halaman rumah. Belum menjadi dinding, belum menjadi tempat berteduh bagi keluarga kecil yang kini telah tiada.

Menurutnya, Aldi sempat bercerita ingin mengumpulkan uang di Pekanbaru agar bisa membangun rumah sendiri. Keinginan itu membuat keluarga mendukung langkahnya merantau.

"Saya pikir dia memang mau bertanggung jawab sama keluarganya," ujarnya.

Kini, harapan tentang rumah baru di tanah rantau itu tinggal cerita. Aldi, Rani dan Bella menjadi bagian dari korban tewas dalam kecelakaan maut yang menewaskan belasan penumpang.

Pihak keluarga hingga kini masih menunggu hasil identifikasi tim DVI Polda Sumatera Selatan di RS Bhayangkara Palembang.

Sambil menanti kepastian itu, keluarga telah menyiapkan satu keputusan terakhir untuk kepergian mereka.

"Rani sama anaknya nanti mau dimakamkan satu liang. Kalau suaminya dipisah," kata Kamdi pelan.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads