Herman Deru Sebut Karhutla Persoalan Serius di Sumsel: 2026 Kemarau Kering

Sumatera Selatan

Herman Deru Sebut Karhutla Persoalan Serius di Sumsel: 2026 Kemarau Kering

Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Minggu, 26 Apr 2026 06:30 WIB
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru (Foto: Istimewa/Pemprov Sumsel)
Palembang -

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi persoalan serius yang dapat berdampak luas, khususnya kesehatan masyarakat. Sumsel pernah mengalami ISPU di atas ambang batas dalam waktu lama.

Menurutnya, kejadian itu menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Karhutla ini kita hadapi setiap tahun. Konsepnya bisa berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu pencegahan. Karena itu, kesamaan persepsi menjadi sangat penting," ujar Deru saat Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutbunla, Jumat (24/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah, kata dia, perlu menyediakan informasi kualitas udara secara terbuka agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan. Salah satunya menggunakan masker saat kondisi udara memburuk.

Dia menegaskan, prediksi musim kemarau kering dari BMKG harus dijadikan alarm untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi karhutla pada tahun ini. Informasi itu harus dimaknai sebagai dasar menyusun strategi pencegahan. Bukan sebagai hal yang menakutkan.

ADVERTISEMENT

"Kesamaan persepsi antara pemangku kepentingan menjadi kunci agar langkah penanganan karhutla lebih efektif dan terarah. Periode kemarau yang diprediksi mulai Mei hingga puncaknya pada Agustus harus dimanfaatkan untuk memetakan wilayah rawan dan meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini," ungkapnya.

Dia berharap pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Sementara itu, Koordinator BMKG Sumsel Wandayantolis mengungkapkan musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dengan intensitas kekeringan yang lebih tinggi.

"Mulai Mei kita sudah memasuki musim kemarau, dengan puncak yang sangat kering dan curah hujan di bawah normal," katanya.

Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada semester kedua, akan memperparah kondisi tersebut. Uap air disebutnya cenderung bergerak ke arah Samudera Hindia dan Afrika.

"Saat ini masih puncak musim hujan, namun dalam waktu dekat kita akan memasuki musim kemarau dengan peningkatan suhu udara," ujarnya.

Menurutnya, pada masa kemarau nanti hingga September mendatang, curah hujan diperkirakan tetap berada pada kategori rendah.

Danrem 044/Gapo Brigjen TNI Khabib Mahfud menambahkan bahwa sejumlah wilayah di Sumsel tergolong rawan karhutla, sebagaimana terlihat pada peningkatan hotspot pada 2023 akibat El Nino.

Saat ini, Sumsel juga telah menetapkan status siaga darurat melalui Keputusan Gubernur tertanggal 22 April 2026. Danops Karhutbunla Wilayah Sumsel ini menjelaskan bahwa strategi penanganan karhutla dilakukan melalui tiga tahapan, yakni mitigasi, penindakan, dan pemulihan.

Mitigasi meliputi patroli terpadu, sosialisasi, dan pengaktifan posko desa. Penindakan mencakup kesiapan pemadaman darat dan udara, termasuk water bombing. Sementara itu, pemulihan difokuskan pada rehabilitasi lahan dan pemulihan ekosistem.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads