Jurus Pemkot Palembang Tekan Produksi Sampah yang Capai 1.000 Ton per Hari

Sumatera Selatan

Jurus Pemkot Palembang Tekan Produksi Sampah yang Capai 1.000 Ton per Hari

Mutiara Helia Praditha, Irawan - detikSumbagsel
Jumat, 10 Apr 2026 17:00 WIB
Sejumlah alat berat beroperasi di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (30/1/2021). Pemerintah Kota Palembang berencana memindahkan pembuangan sampah TPA Karya Jaya karena TPA Sukawinatan sudah over kapasitas. ANTARA FOTO/Feny Selly/wsj.
TPA Sukawinatan Palembang over kapasitas (Foto: ANTARA FOTO/FENY SELLY)
Palembang -

Produksi sampah di Palembang, Sumatera Selatan, mencapai 1.000 ton per hari. Salah satu langkah Pemkot Palembang untuk menekan produksi sampah itu yakni melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui komunikasi, Informasi, dan edukasi (KEI).

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang Aprizal Hasyim meminta kesadaran masyarakat melalui pendekatan KIE. Diharapkan dengan KEI ini, produksi sampah di Palembang dapat berkurang.

"Per hari hampir mencapai 1 ton sampah. Untuk itu, pengelolaan sampah bukan hanya tugas DLHK atau petugas pasukan kuning saja, tetapi wajib melibatkan seluruh lapisan masyarakat," katanya dari rilis yang diterima detikSumbagsel, Kamis (9/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aprizal menjelaskan, program tersebut merupakan instruksi langsung dari Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palembang guna menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Menurutnya, melalui program KIE masyarakat akan diberikan pemahaman lebih komprehensif terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dimulai dari tingkat rumah tangga.

ADVERTISEMENT

"Mulai dari rumah tangga kita dulu, rumah kita biasakan hidup bersih dan tidak membuat sampah sembarang apa lagi buang sampah ke sungai,"katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Palembang, Ahmad Mustain menyebut edukasi menjadi kunci utama dalam menekan volume sampah.

Ia mengungkapkan, saat ini rata-rata produksi sampah per individu mencapai 0,7 kilogram per hari. Melalui edukasi masif, angka tersebut ditargetkan turun menjadi 0,3 kilogram per orang.

Pemkot Palembang juga akan mengintegrasikan program ini dengan LSDP dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).Sebagai langkah awal, dua kecamatan ditunjuk sebagai proyek percontohan (pilot project), yakni Sukarami dan Sako.

"Kami pilih karena lokasinya cukup jauh dari pusat pengolahan di Keramasan. Jika berhasil, volume sampah ke hilir bisa berkurang drastis," katanya.

Sejumlah strategi pun disiapkan, mulai dari mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai hingga mendorong pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos.

Selain itu, edukasi juga menyasar pelajar dengan mendorong seluruh sekolah meraih predikat Adiwiyata agar kesadaran lingkungan tumbuh sejak dini.

"Ke depan, pengelolaan sampah akan diperkuat di tingkat kecamatan melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), sehingga hanya residu yang diangkut ke tempat pembuangan akhir,"kata Mustain

Dia menambahkan, keberhasilan program ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi menghemat anggaran daerah, terutama dari sisi biaya operasional dan transportasi.

"Mudah-mudahan kolaborasi dengan KLHK dan Kemendagri segera terwujud, sehingga Palembang benar-benar menjadi kota bersih melalui kesadaran warganya sendiri," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut KLH, Sahid Muhaddar, menegaskan bahwa pendekatan KIE difokuskan pada perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah, bukan sekadar mengejar penghargaan.

"Kalau KIE itu kan kita lakukan apa? Ada sosialisasi, kita cari satu kecamatan menjadi pilot project kita. Pilot project-nya umpamanya sampah sehari 1 kg, dengan KIE bisa nggak jadi 0,5 kg atau pun 0,4 kg per hari, Kalau pilah sampah kan bagus, kalau plastik ada harga bisa dijual, plastik tidak berharga bisa dimanfaatkan yang lain," ungkapnya.

Pemerintah Kota Palembang berharap edukasi KIE dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi dan memilah sampah, sehingga timbunan sampah harian dapat ditekan menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan di masa mendatang.



(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads