Catatan Sejarah Idulfitri di Indonesia: Lebaran Mendadak-Masa Pandemi

Catatan Sejarah Idulfitri di Indonesia: Lebaran Mendadak-Masa Pandemi

Bagus Nugroho - detikSumbagsel
Minggu, 22 Mar 2026 23:01 WIB
Ilustrasi Idul Fitri
Foto: Ilustrasi Idulfitri (Meghraj Neupane/Unsplash)
Palembang -

Idulfitri merupakan momen yang dinantikan oleh umat Islam di dunia. Di Indonesia sendiri, penetapan 1 Syawal versi pemerintah baru saja dilaksanakan pada Sabtu (21/3/2026) kemarin. Namun, jika menilik ke belakang, sejarah Lebaran di Indonesia ternyata menyimpan deretan peristiwa yang tak terlupakan.

Mulai dari momen Lebaran mendadak hingga suasana Idulfitri di tengah pembatasan pandemi Covid-19. Peristiwa tersebut bukan hanya sekadar catatan kalender, melainkan bentuk memori yang masih membekas di ingatan masyarakat.

Berikut detikSumbagsel rangkum deretan momen bersejarah Idulfitri di Indonesia, mulai dari yang mendadak hingga Lebaran di masa sulit. Yuk, simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daftar Sejarah Idulfitri yang Membekas di Masyarakat

1. Mendadak Lebaran Tahun 1987

Tepat 39 tahun lalu, Indonesia mencatat momen unik dalam penetapan Idulfitri. Kala itu, kepastian 1 Syawal baru diumumkan secara resmi pada pagi hari. Sehingga masyarakat yang tengah menjalankan puasa hari ke-30, seketika gempar karena harus mendadak merayakan Lebaran.

Peristiwa tersebut dipicu oleh sistem sidang isbat yang belum seefektif saat ini. Selain itu, dilansir dari laman CNBC, pada tahun tersebut Presiden Soeharto juga tidak menggelar open house. Menteri Sekretaris Negara, Sudharmono menuturkan alasan tidak diadakannya kegiatan tersebut, karena saat itu ekonomi Indonesia sedang terpuruk.

ADVERTISEMENT

Hal ini diakibatkan oleh ekspor utama Indonesia, minyak bumi mengalami penurunan harga global. Dalam buku Ekonomi Indonesia dalam Lintasan Sejarah oleh Boediono, disebutkan bahwa harga ekspor minyak RI jatuh dan membuat pendapatan Indonesia merosot.

Pada waktu yang bersamaan, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS juga melemah dan Indonesia belum mengandalkan ekspor komoditas non-migas.

Senada dengan hal itu, dalam buku autobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, respon tersebut diambil sebagai bukti bahwa pemimpin harus memberikan contoh kesederhanaan dan keprihatinan dalam situasi ekonomi yang tak menentu.

"Pada hari Lebaran 1987, saya dan istri tak menerima ucapan selamat Idulfitri di kediaman kami di jl. Cendana," tutur Soeharto.

2. Diundurnya Lebaran 2011

Berbeda dengan peristiwa 1987, momen unik tahun 2011 justru menjadi "Lebaran yang Tertunda". Dilansir dari detikNews, pada kala itu sejumlah kalender Indonesia menulis jika Lebaran jatuh pada 30 Agustus 2011. Namun, hasil sidang isbat pada 29 Agustus malam justru berkata lain dan menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011.

Keputusan ini diambil setelah sejumlah titik lokasi pemantauan di Indonesia tidak melihat adanya hilal. Dampaknya pun dirasakan luas oleh masyarakat yang sudah terlanjur memasak ketupat, menata kue lebaran, hingga membersihkan rumah untuk menyambut tamu besok pagi.

Karena mundur satu hari, terjadi sejumlah efek domino. Misalnya, di Samarinda, Kalimantan Timur, ratusan kendaraan yang sudah siap untuk konvoi takbiran mendadak batal. Kendaraan-kendaraan konvoi yang terdiri dari truk maupun roda empat dengan perlengkapan sound system tersebut mulanya telah berkumpul di Jalan Slamet Riyadi-Untung Surapati pada Senin (29/8/2011) malam.

Namun, sampai pukul 20.30 WITA, pemerintah masih belum memberi keputusan 1 Syawal. Akibatnya, peserta gelisah. Baru pada pukul 21.00 WITA, Kementerian Agama memutuskan Idulfitri jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011.

Hasilnya bisa diduga, sejumlah peserta konvoi bubar dan pergi satu per satu. Namun, tetap ada juga peserta yang masih lanjut mengeksekusi tradisi konvoi tersebut. "Tidak apa-apa (batal). Yang penting niatan kita untuk konvoi takbiran," ungkap Fadil, salah satu peserta.

3. Lebaran 2020: Kala Jarak tak Membatasi Silaturahmi

Salah satu catatan sejarah penting Idulfitri di Indonesia adalah saat masa pandemi Covid-19 melanda. Pada masa itu, seluruh euforia sukacita Hari Raya seketika sunyi.

Bukan karena penundaan tanggal atau sebaliknya melainkan pada masa itu sedang diberlakukannya Pemberantasan Sosial Berskala Besar. Sejumlah perbedaan mencolok pun dirasakan, mulai dari sidang isbat yang dilaksanakan secara virtual, hingga himbauan salat Id di rumah masing-masing.

Momen ini juga menjadi sejarah "Lebaran Tanpa Mudik" yang membekas. Seluruh silaturahmi yang biasanya dilakukan secara langsung, mendadak beralih melalui layar video call, Google Meet, hingga Zoom. Meski jarak memisahkan, akan tetapi silaturahmi tetap dapat terjaga di tengah keterbatasan.

4. Lebaran Beda Hari

Berbeda dari 3 momen di atas, Lebaran ini terjadi karena adanya perbedaan dalam dasar perhitungan. Dilansir dari CNBC Indonesia, Muhammadiyah menggunakan metode hisab dalam penentuan awal bulan Qamariyah. Sementara itu, NU menggunakan metode rukyat.

Sepanjang 2001-2026 atau 25 tahun terakhir, Indonesia pernah merayakan Hari Raya beda hari sebanyak lima kali, yaitu pada tahun 2002, 2006, 2007, 2011, 2023, dan 2026.

Demikian catatan sejarah Idulfitri di Indonesia mulai dari Lebaran mendadak hingga beda hari. Semoga berguna ya!

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads