Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan sejumlah rudal canggih sejjil atas serangan belasan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Rudal itu dilesatkan ke Israel.
Rudal canggih Sejjil ini pertama kalinya digunakan dalam perang yang berkecamuk sejak 28 Februari lalu.
"Untuk pertama kali dalam responsnya terhadap serangan AS-Israel, Iran meluncurkan rudal Sejjil," sebut Al Jazeera dilansir detikNews, dalam laporannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporannya, Al Jazeera juga menyebut rudal Sejjil ini menggunakan bahan bakar padat, sehingga lebih sulit dideteksi dan dicegat di udara. Laporan tersebut dikonfirmasi oleh media Iran, Press TV.
Press TV menyebut bahwa rudal Sejjil telah diluncurkan dalam gelombang ke-54 operasi "True Promise 4" terhadap target Israel dan AS.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti dilansir Press TV, Senin (16/3/2026), mengumumkan pada Minggu (15/3) waktu setempat bahwa operasi pembalasan itu dilaksanakan dengan kode operasi "Ya Zahra".
IRGC menyebut bahwa sejumlah besar rudal, termasuk Khorramshahr yang merupakan rudal super berat dengan hulu ledak ganda, kemudian Kheybar, Qadr, dan Emad, telah dikerahkan.
Press TV menyebut rudal Sejjil yang merupakan rudal berbahan bakar padat dikerahkan untuk pertama kalinya sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari.
Disebutkan Press TV bahwa rudal Sejjil diluncurkan untuk menyerang pusat komando dan kendali rezim Israel serta infrastruktur militer penting.
Rudal Sejjil, menurut laporan NDTV, merupakan rudal balistik jarak menengah berbahan bakar padat dengan, dua tahap pelepasan, yang diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer. Kapasitas muatan rudal Sejjil mencapai 700 kilogram.
Karena kemampuannya bermanuver di ketinggian, rudal Sejjil dijuluki "dancing missile", merujuk pada kemampuannya untuk menghindari sistem pertahan rudal seperti Iron Dome milik Israel.
Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter sekitar 1,25 meter, dan berat sekitar 23.600 kilogram.
Desain berbahan bakar padatnya, sebut CSIS, menawarkan keunggulan strategis, yang memungkinkan rudal ini dipersiapkan dan diluncurkan lebih cepat daripada sistem berbahan bakar cair lainnya.
