Pernah merasa sumbu sabar mendadak pendek saat jarum jam menunjukkan waktu siang hari di bulan Ramadhan? Alih-alih merasa damai, malah rasa lapar dan haus terkadang justru memicu emosi yang sulit dikontrol hingga kadang membuat stres.
Lantas, apa sebenarnya penyebab orang mudah marah saat puasa, dan bagaimana cara mengatasinya? Kabar baiknya, kondisi ini sepenuhnya normal dan memiliki penjelasan ilmiah yang jelas.
Karena itu, yuk detikers kenali penyebabnya dan temukan cara jitu tetap tenang sepanjang Ramadhan!
Mengapa Puasa Bisa Meengaruhi Emosi?
Dilansir dari detikEdu, para ahli kesehatan menjelaskan bahwa perubahan suasana hati saat berpuasa bukan semata-mata soal lemahnya pengendalian diri. Namun, ada perubahan fisiologis nyata yang terjadi di dalam tubuh selama jam puasa berlangsung. Berikut empat penyebab utamanya:
1. Gula Darah yang Turun
Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utamanya. Saat berpuasa, kadar glukosa dalam darah menurun secara bertahap seiring berjalannya waktu. Akibatnya, kemampuan otak untuk mengatur dan mengelola emosi ikut terganggu.
Inilah yang sering disebut sebagai kondisi hangry yakni gabungan dari kata hungry (lapar) dan angry (marah). Efeknya bisa berupa ketidaksabaran, kesulitan berkonsentrasi, hingga ledakan emosi yang sulit dikendalikan.
2. Dehidrasi
Riset dari Laboratorium Kinerja Manusia di Universitas Connecticut membuktikan bahwa dehidrasi ringan sekalipun sudah cukup untuk meningkatkan risiko perubahan suasana hati, memicu kecemasan, dan mempersulit kemampuan berpikir jernih.
Berjam-jam tanpa asupan air membuat tubuh perlahan kekurangan cairan, dan di sore hari efek ini semakin terasa nyata, tepat di waktu ketika banyak orang harus tetap produktif bekerja atau beraktivitas.
3. Kurang Tidur
Perubahan jadwal selama Ramadan yakni bangun dini hari untuk sahur, lalu malam shalat Tarawih, dan tak sedikit juga memutuskan untuk begadang hingga Tengah malam. Hal ini kerap memicu terjadinya kurang tidur.
Kurang tidur secara langsung melemahkan kemampuan otak dalam meregulasi emosi, meningkatkan kecemasan, dan membuat seseorang jauh lebih rentan terhadap iritabilitas atau sensitif. Semakin besar utang tidur yang menumpuk, semakin sulit pula mengendalikan reaksi emosional.
4. Putus Kafein atau Nikotin
Bagi yang terbiasa mengawali hari dengan secangkir kopi atau yang memiliki kebiasaan merokok, sehingga absennya zat-zat ini secara tiba-tiba selama jam puasa bisa memicu gejala putus zat.
Gejalanya meliputi sakit kepala, sulit berkonsentrasi, dan peningkatan iritabilitas yang cukup terasa, terutama di minggu pertama Ramadhan sebelum tubuh mulai menyesuaikan diri.
Simak Video "MAS AI: Doa Buat Orang Yang Enggak Kuat Haus dan Lapar Saat Berpuasa"
(csb/csb)