Mitos Pohon Cinta Pulau Kemaro yang Bikin Langgeng, Berawal dari Celetukan Turis

Sumatera Selatan

Mitos Pohon Cinta Pulau Kemaro yang Bikin Langgeng, Berawal dari Celetukan Turis

Ani Safitri - detikSumbagsel
Minggu, 15 Feb 2026 22:00 WIB
Ritual Cari Jodoh di Pohon Cinta
Ritual Mencari Jodoh di Pohon Cinta Pulau Kemaro (Foto: detik)
Palembang -

Pulau Kemaro di Palembang selalu identik dengan legenda cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah. Salah satu daya tarik utamanya adalah Pohon Cinta, yang dipercaya bisa membuat hubungan langgeng bagi siapa saja yang menuliskan nama pasangannya di sana.

Namun, di balik keromantisannya, tersimpan cerita yang jauh berbeda dari anggapan banyak orang.

Juru Kunci Pulau Kemaro, Burhan mengungkapkan bahwa sebutan Pohon Cinta sebenarnya hanyalah sebuah mitos. Pohon tersebut merupakan pohon beringin biasa yang secara alami memiliki bentuk unik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau sebenarnya itu tidak ada, itu hanya mitos saja. Karena itu pohon beringin," ujar Burhan saat ditemui detikSumbagsel, Sabtu (14/2/2026).

Nama 'Pohon Cinta' bukan berasal dari legenda kuno, melainkan dari celetukan turis mancanegara. Burhan menceritakan, awalnya batang pohon tersebut tertimbun tanah sedalam dua meter, sehingga yang tersisa hanya dahan-dahannya saja.

ADVERTISEMENT

Karena dahan-dahan tersebut tumbuh merambat dan membentuk simbol hati (love), seorang turis asing yang berkunjung pun merasa kagum.

"Waktu itu ada turis dari luar, dia lihat pohonnya agak aneh, dia tanya 'ini pohon apa?'. Dijawab pohon beringin, dia bilang 'Oh Pohon Cinta'. Dari situ asal-usulnya," jelas Burhan.

Sayangnya, kepopuleran nama Pohon Cinta justru membawa dampak buruk. Banyak pengunjung yang datang dengan niat jahil untuk mencoret-coret batang pohon dengan tulisan nama pasangan menggunakan tinta atau benda tajam.

Mereka percaya dengan menuliskan nama di pohon itu, hubungan asmara akan menjadi langgeng. Padahal, bagi pengelola, aksi ini adalah bentuk vandalisme yang merusak keindahan alam.

"Orang kita ini biasalah jahil, tukang coret-coret. Katanya kalau tulis itu hidupnya langgeng. Itu malahan kalau bagi saya merusak, bukannya untuk melestarikan," tegasnya.

Untuk menekan aksi perusakan tersebut, pihak yayasan pengelola Pulau Kemaro kini bersikap lebih tegas. Larangan mencoret-coret sudah dipasang di berbagai titik, mulai dari pohon, pagar, hingga dinding bangunan.

Pengunjung yang nekat melakukan vandalisme akan dikenakan sanksi denda dan diwajibkan untuk mengecat kembali bagian yang telah mereka rusak.

"Kita sudah arahkan. Kalau mencoret-coret kita akan denda, suruh dia cat kembali," ungkapnya.

Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(csb/csb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads