Persiapan kelenteng di Palembang menjelang Imlek 2026 berlangsung sederhana namun sarat makna spiritual. Inti dari semua persiapan adalah kebersihan baik fisik maupun hati.
"Persiapan di kelenteng, ya itu bersih-bersih. Nambah alat-alat ibadah. Biasanya kalau hari-hari biasa, yang ibadahnya sedikit. Mungkin Imlek, banyak yang datang," ujar Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sumatera Selatan Tjik Harun.
Salah satu ritual sakral yang dilakukan menjelang Imlek adalah mandi rupang yakni pembersihan patung dewa-dewi. Ritual ini tidak bisa dilakukan sembarangan waktu, melainkan harus menunggu momen khusus ketika para dewa dipercaya naik ke langit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tjik Harun menjelaskan, ritual Imlek diawali dengan mengantar Dewa Dapur naik ke langit untuk melaporkan kegiatan manusia sepanjang tahun.
"Jadi seperti rapat tahunan lah, apa yang kamu perbuat selama tahun berjalan itu, itu imbasnya nanti berkah dari tahun akan datang," ujarnya
Setelah patung atau rupang dipercaya sudah 'kosong' karena roh dewa telah naik ke langit barulah dapat dibersihkan. Ritual ini bukan sekadar membersihkan debu dan kotoran, tetapi memiliki makna spiritual yang membersihkan diri dan lingkungan sebelum memasuki tahun baru.
Selain bersih-bersih fisik bangunan dan ritual mandi rupang, kelenteng juga mempersiapkan perlengkapan ibadah.
"Kami siapkan banyak, misalnya perlengkapan ibadahnya, hio (dupa) ditambah, kertas sembahyang. Nanti umat yang datang, itu sudah ada," katanya.
Tjik Harun mengatakan tidak ada persiapan khusus yang berlebihan untuk Imlek.
"Secara spesifik, tidak ada persiapan khusus. Persiapan itu mengalir," katanya.
"Bagi orang Tionghoa itu tradisi memang rutin dijalankan. Misalnya bersih-bersih, bersih-bersih rumah, dihias-hiasin. Kemudian banyak atribut warna merah, dominan, lambang kemakmuran, kebahagiaan," tambahnya.
Pada malam Imlek, kelenteng-kelenteng akan dibuka selama 24 jam untuk menerima umat yang ingin bersembahyang. Tradisinya, umat berkumpul di kelenteng menjelang tengah malam untuk menyambut pergantian tahun.
Pukul 12 malam dianggap sebagai puncak, saat umat menancapkan hio pertama dan menyalakan lilin pertama sebagai simbol harapan di tahun baru.
"Jam 12 malam itulah puncaknya mereka menancapkan hio pertama. Hio pertama, lilin pertama, harapan di hari pertama, itulah langkah awal untuk menuju kesehatan, kesuksesan," katanya
Terkait pertunjukan barongsai yang identik dengan Imlek, Tjik Harun menjelaskan bahwa tidak semua kelenteng di Palembang mengundang barongsai. Biasanya barongsai sendiri yang datang mencari titik-titik yang ramai untuk bermain dan menghibur
"Barongsai itu mengalir. Kadang bisa diundang di kelenteng, kadang juga ada di restoran saat makan malam, biasanya pengelola rumah makan itu undang barongsai untuk menyemarakkan," katanya.
Menutup penjelasan tentang persiapan kelenteng, Tjik Harun menekankan bahwa yang terpenting bukanlah kemegahan persiapan, melainkan kebersihan hati.
"Mungkin ada yang punya uang, bisa beli baju baru. Bagi yang tidak ada uang, tidak harus pakai baju baru. Yang bersih, yang penting ikhlas hati kita. Hati kita ini mesti bersih. Itu intinya," ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
