5 Tradisi Lokal Menyambut Ramadan di Wilayah Sumbagsel

5 Tradisi Lokal Menyambut Ramadan di Wilayah Sumbagsel

Bagus Nugroho - detikSumbagsel
Jumat, 06 Feb 2026 22:00 WIB
Ziarah Kubro Palembang
Foto: Ziarah Kubro Palembang (Raja Adil/detikcom)
Palembang -

Ramadan menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia, datangnya bulan suci ini disambut dengan beragam tradisi lokal yang diwariskan secara turun temurun, termasuk di wilayah Sumatera Bagian selatan.

Di wilayah Sumbagsel, masyarakat memiliki cara khas dalam menyambut datangnya Ramadan. Mulai dari tradisi yang dilaksanakan sepuluh hari sebelum bulan puasa hingga sehari menjelang Ramadan, seperti malam punggahan.

Berikut detikSumbagsel sajikan 5 tradisi lokal setiap daerahnya. Yuk simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daftar Tradisi Lokal dalam Menyambut Ramadan di Wilayah Sumbagsel

Berikut ini daftar berbagai tradisi lokal dalam rangka menyambut datangnya ramadhan di sejumlah wilayah liputan Sumbagsel, dilansir dari berbagai sumber, antara lain:

1. Ziarah Kubro (Sumatera Selatan)

Dilansir dari jurnal Ziarah Kubra di Palembang: Antara Kesadaran Religi dan Potensi Ekonomi oleh Firdaus Marbun, ziarah kubro merupakan tradisi mengunjungi makam atau kuburan dari para ulama serta pendiri Kesultanan Palembang Darussalam yang dilakukan secara beramai-ramai. Tradisi ini biasa digelar pada hari ke-20 di bulan Syaban.

ADVERTISEMENT

Puluhan hingga ratusan ribu orang akan berkumpul untuk mengikuti tradisi ziarah kubro. Awalnya tradisi ini merupakan rutinitas dari sebuah keluarga keturunan Arab di Palembang yang kemudian berkembang melibatkan masyarakat dari dalam hingga luar negeri. Bahkan, pemerintah Sumsel menjadikan tradisi ini sebagai salah satu event wisata daerah yang masuk dalam kalender pariwisata provinsi.

Tahun ini rute lengkap dan agenda Ziarah Kubro 2026 telah dirilis, dilansir dari detikSumbagsel (5/2/2026) berikut agenda dan rutenya.

Hari Pertama (Jumat, 6/2/2026)

Rangkaian pertama dimulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, dimulai dari Masjid Darul Muttaqien dan dilanjutkan ke Makam Habib Aqil bin Yahya serta Pemakaman Habib Ahmad bin Syech Shahab.

Rangkaian kedua dengan acara Rauhah dan Haul Al-Habib Ahmad Abdullah Al-Habsyi pukul 16.00 hingga 20.00 WIB. Bertempat di Pondok Pesantren Ar-Riyadh, Jalan K.H.A. Azhari, kawasan 13 Ulu, Palembang.

Hari Kedua (Sabtu, 7/2/2026)

Rangkaian pertama dimulai pukul 06.00 hingga 13.00 WIB. Rute ziarah meliputi Rumah Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi di kawasan 12 Ulu, Pemakaman Telaga Sewidak di 14 Ulu, hingga Pemakaman As-Seggaf dan Kompleks As-Seggaf di kawasan 16 Ulu.

Rangkaian kedua dengan acara Haul Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Imam Abdurrahman As-Seggaf pukul 18.00 hingga 20.00 WIB. Bertempat di Kampung Sejarah Al-Munawwar, Jalan K.H.A. Azhari, 13 Ulu.

Hari Ketiga/Puncak Kegiatan (Minggu, 8/2/2026)

Rangkaian pertama dimulai pada pukul 06.30 hingga 08.15 WIB, dengan acara Haul Habib Abdullah bin Idrus Shahab dan Habib Abdurrahman bin Hamid, di Kampung Sejarah Sei Bayas kawasan 8 Ilir.

Rangkaian utama selanjutnya adalah Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam, yang dimulai pukul 08.15 WIB hingga selesai. Rute ziarah meliputi pemakaman Al-Habib Pangeran Syarif Ali BSA, Kawah Tengkurep, serta kawasan Kambang Koci.

Rangkaian terakhir, adalah agenda wisata bahari religi, pada pukul 16.00 hingga 19.00 WIB, dengan rute dari kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) menuju Makam Kiai Muara Ogan.

2. Belangiran (Lampung)

Dilansir dari jurnal Kontribusi Muli Mekhanai dalam Melestarikan Kearifan Lokal Tradisi Belangiran di Kota Bandar Lampung oleh Yusuf Perdana dan kawan-kawan, tradisi belangiran merupakan tradisi yang dilaksanakan setahun sekali, tepatnya sebelum memasuki bulan Ramadan. Belangiran berasal dari kata "langir" yang artinya membersihkan atau menyucikan. Bahasa Lampungnya langekh dan diluruskan menjadi belangir atau Belangiran yang berarti membersihkan diri dari penyakit maupun dosa.

Dahulu kala syarat melakukan Belangiran adalah merang atau tangkai padi, jeruk nipis, hingga kembang tujuh taman. Setelah itu, merang dibakar dan ditampung di satu tempat, lalu dicampur dengan kembang atau jeruk nipis. Penggunaan ini digunakan sebagai pewangi tubuh mengingat pada zaman dulu belum ada shampo atau sabun. Selain itu persyaratan lain yang tidak boleh dilupakan adalah pemilihan lokasi belangiran, di mana sungai menjadi tempat pelaksanaan tradisinya dengan harapan agar semua dosa dan kotoran hanyut bersama dengan air sungai yang mengalir.

3. Bebantai (Jambi)

Dikutip dari jurnal Tradisi Bebantai di Merangin Jambi, Studi Living Hadis Dalam Konteks Budaya Lokal oleh Baharudin dan Ach Baiquni, Bebantai merupakan tradisi yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat Jambi dalam menyambut bulan suci Ramadan. Bebantai berarti membantai atau menyembelih hewan ternak seperti kerbau atau sapi secara bersama di balai pondok pekan puaso, tempat berkumpulnya masyarakat.

Dalam prosesnya, sebelum bebantai dimulai, pemuka adat dan agama memberikan arahan dan doa kepada masyarakat. Kemudian, puluhan lelaki kekar menarik dan menahan kerbau atau sapi yang terikat di tonggak batang pinang, lalu disembelih dengan cara yang syar'i. Setelah itu, daging hasil sembelihan dibagi-bagikan secara merata kepada masyarakat. Daging ini dianggap sebagai rezeki dan nikmat dari Allah SWT yang harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik.

4. Mandi Belimau (Bangka Belitung)

Dikutip dari jurnal Makna Simbolik Tradisi Mandi Belimau di Desa Kimak, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka oleh Amirah Tsania Khansa dan Shakira Mahendra Putri, mandi belimau secara harfiah berarti mandi dengan air yang telah dicampur dengan limau atau jeruk dengan tujuan membersihkan juga menyucikan diri sebelum menjalankan puasa di bulan Ramadan.

Tradisi ini diperkirakan telah ada sejak 300 tahun lalu dan diperkenalkan oleh Depati Bahrin, pahlawan yang pernah memimpin perang Bangka pada tahun 1819-1828. Tradisi mandi belimau dilakukan pada hari Minggu di minggu terakhir bulan Syaban atau satu minggu sebelum bulan suci Ramadan.

5. Malam Punggahan (Bengkulu)

Dilansir dari jurnal Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan: Malam Punggahan dan Membersihkan Makam di Desa Kaana Pulau Enggano oleh Rizki Aditya Kumara dan kawan-kawan, malam punggahan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Desa Kaana, Pulau Enggano, sebagai tradisi dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini dilakukan pada malam terakhir sebelum bulan Ramadan tiba dan menjadi momen penting bagi warga.

Selain dimaknai sebagai persiapan memasuki bulan puasa, malam punggahan juga berfungsi sebagai media penguatan ikatan sosial antar warga. Kegiatan makan bersama yang digelar tidak hanya mempererat hubungan kekeluargaan tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan ajaran agama secara informal.

Demikian informasi mengenai 5 tradisi menyambut Ramadan mulai dari ziarah kubro hingga malam punggahan. Semoga bermanfaat.

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads