Viral video memperlihatkan kondisi pelajar di Kabupaten Lampung Timur menyeberangi sungai menggunakan perahu getek. Warga sebut pemerintah tidak pernah membangun jembatan penyeberangan sejak tahun 1960.
Adapun lokasi tersebut berada di Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur. Dalam rekaman yang beredar, terlihat getek penuh penumpang dan sepeda motor tanpa dilengkapi alat keselamatan.
Perekam video menilai kondisi penyeberangan sangat membahayakan keselamatan warga, khususnya pelajar yang setiap hari harus melintas sungai menggunakan perahu sederhana. Ia menyebut Desa Kali Pasir telah berdiri sejak 1960, namun hingga 2026 jembatan penghubung belum juga dibangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oke, terima kasih untuk Wakil Gubernur yang semalam sudah telepon dan suruh menghentikan video saya. Saya tidak akan pernah berhenti sebelum Jembatan Kali Pasir Way Bungur ini dibangun, benar-benar terbangun. Karena kasihan saya anak didik generasi bangsa ini," kata perekam video.
"Ini Desa Kali Pasir ini berdiri dari tahun 1960. Sekarang ini 2026. Otak kalian itu di mana? Kalau memang nggak bisa kerja, nggak usah kerja. Kalian itu digaji sama rakyat, tapi fasilitas rakyat itu nggak diutamakan. Ini anak didik generasi bangsa loh ini. Jangan main-main," lanjutnya.
Perekam juga menilai pemimpin daerah hanya menebar janji-janji palsu tanpa pernah memikirkan kesejahteraan masyarakat maupun menyiapkan sarana dan prasarana untuk masyarakat.
"Ini perahu ini, nggak ada alat satupun untuk keselamatan mereka. Coba mikir dari situlah. Kalian ini gimana coba? Kerjanya itu ngapain di sana? Mikirlah mikir itu, mikir ya. Jangan ke sini tuh cuma janji-janji busuk aja, janji-janji palsu aja kamu," ungkapnya.
"Coba kayak gini coba. Nggak ada alat satupun keselamatan mereka. Dia ini nggak ada yang jamin keselamatannya itu nggak ada. Coba, perahu-perahu ini udah rapuh coba ini kayak gini kan? Payah kalian ini. Geram aku kalau kayak gini, bener-bener marah betul aku. Ini tuh jauh lho ini, ada sekitar 700 meter lho naik seperti itu coba. Masya Allah," timpal perekam lagi.
Atas beredar video tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung melalui akun Instagram resminya, menyatakan informasi yang menyebut Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menelepon warga dan meminta penghentian video adalah tidak benar.
"Informasi yang beredar merupakan narasi menyesatkan. Wakil Gubernur tidak pernah menelepon warga, tidak pernah meminta penghentian video, dan tidak pernah melakukan intimidasi," tulis keterangan resmi Pemprov Lampung.
Pemprov Lampung menyampaikan tiga poin klarifikasi. Pertama, Wakil Gubernur tidak pernah melakukan komunikasi langsung dengan warga terkait persoalan tersebut.
Kedua, tidak ada perintah maupun tekanan kepada warga untuk menghentikan perekaman video. Ketiga, pemerintah daerah menyatakan terbuka terhadap kritik dan aspirasi masyarakat terkait pembangunan infrastruktur.
Pemprov Lampung juga mengimbau masyarakat agar bijak menyikapi informasi yang beredar di media sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh potongan video tanpa konteks utuh.
