Ricuh Sengketa Lahan di Borong Makassar hingga Warga Tutup Jalan

Tim detikSulsel - detikSulsel
Rabu, 22 Jul 2026 07:06 WIB
Foto: Warga tutup jalan di Borong, Makassar. (Sahrul Alim/detikSulsel)
Makassar -

Proses konstatering lahan di Perumahan Aditarina (eks kompleks Kodam), Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), diwarnai kericuhan. Warga menghalau aparat kepolisian menggunakan batu, anak panah busur hingga menutup Jalan Borong Raya-Jalan Ujung Bori.

Petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) dikawal aparat kepolisian mendatangi objek sengketa di Perumahan Aditarina, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, pada Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 09.30 Wita. Namun warga menghalangi petugas masuk ke lokasi sengketa.

Petugas awalnya masuk ke lokasi sengketa melalui Lorong 2 di Jalan Borong Raya. Warga yang sudah menunggu langsung melempari petugas menggunakan batu, petasan hingga anak panah busur.

Aparat kepolisian kemudian melepaskan tembakan peringatan dan gas air mata ke arah massa warga. Petugas pun berhasil masuk ke objek sengketa menggunakan mobil taktis polisi untuk melakukan pengukuran.

Konstatering atau pengukuran lahan sengketa di Komplek Aditarina, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) sempat diwarnai kericuhan. Foto: Reinhard Soplantila/detikSulsel

Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana mengatakan konstatering dilakukan atas permintaan BPN. Hal ini karena pihak developer mengklaim sebagai pemegang hak atas tanah, namun di sisi lain sebagian objek tanah ditempati sejumlah warga yang juga mengklaim punya hak atas tanah.

"Hari ini itu kami ada permohonan dari BPN untuk melakukan konstatering yaitu pemetaan kondisi tanah wilayah itu ya pengukuran lah dengan menggunakan satelit itu dilakukan di wilayah PT Aditarina," ujar Kombes Arya kepada wartawan di lokasi.

Arya mengatakan pengamanan kegiatan tersebut melibatkan 1.091 personel gabungan dari Polrestabes Makassar dan Polda Sulsel, Polsek Manggala. Menurutnya, secara umum situasi dapat dikendalikan hingga proses pengukuran lahan sengketa selesai dilakukan.

"Ini dilaksanakan dengan kekuatan pasukan sebanyak 1.091 orang ya, lalu situasi juga berjalan dengan baik, kondusif ya," katanya.

Meski demikian, Arya mengakui ada perlawanan dari massa warga yang memblokade jalan hingga melempari aparat dengan batu. Akibatnya, sejumlah personel kepolisian mengalami luka dan sudah ditangani.

"Ini masyarakat yang belum paham mungkin ada resisten sedikit, tapi anggota nggak apa-apa. Ya memang ada yang kena tapi lukanya hanya kecil saja," ungkap Arya.

Dia menilai penolakan warga terjadi karena masih adanya kesalahpahaman terkait kegiatan konstatering. Menurutnya, sebagian warga menganggap kegiatan tersebut merupakan eksekusi lahan.

"Ada masyarakat yang memang belum memahami tentang konstatering. Mereka berpikir bahwa ini adalah eksekusi tapi ini bukan ya, ini bukan eksekusi, ini hanya pengukuran saja ya," jelasnya.



Simak Video "Menikmati Kelezatan Konro Iga Bakar di Restoran Kota Makassar"


(hsr/hsr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork