Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) berinisial KN, HRM, dan ZRY diduga dikeroyok seniornya di dalam kampus di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Penganiayaan itu mengakibakan korban mengalami luka fisik hingga trauma berat dan takut kembali berkuliah.
"Kondisinya saat ini lagi trauma dan tidak ingin lagi ke kampus. Anak saya sekarang trauma dan belum memiliki keberanian, mungkin dia perlu trauma healing," kata ayah HRM bernama Marsel kepada wartawan, Kamis (8/10/2026).
Marsel mengaku kecewa atas insiden kekerasan yang menimpa anaknya. Padahal, Fakultas Teknik Untad merupakan fakultas impian sang anak yang sempat diperjuangkan selama dua tahun.
Dia mengaku anaknya sempat tidak lolos seleksi Untad pada tahun sebelumnya dan diterima di perguruan tinggi lain. Namun, demi masuk ke fakultas idamannya, sang anak rela menunda kuliah dan kembali mendaftar di Untad.
"Dia sering cerita ke teman dan ke saya kalau Untad itu keren dan Fakultas Teknik itu unggulan. Makanya saya sangat kecewa dengan sistem yang ada karena tidak bisa memberikan jaminan keamanan kepada anak kami," tegasnya.
Pihaknya sudah melaporkan kejadian ini ke polisi. Keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk mengusut tuntas kekerasan di lingkup perguruan tinggi ini.
"Hasil visum sudah diserahkan ke penyidik kepolisian. Bekas-bekas pukulan juga masih terasa sampai sekarang. Saya serahkan semuanya ke tim hukum dan pihak-pihak terkait," tambah Marsel.
Hal yang sama disampaikan ibu korban HRM bernama Julidia. Dia menyebut anaknya adalah sosok yang pendiam dan bukan mahasiswa yang suka membuat kerusuhan.
"Sebagai ibu, waktu melihat kondisinya, saya menangis sekali. Saya kenal anak saya. Dia ini anak rumahan, bukan anak yang nakal atau arogan. Saya minta apa yang mereka lakukan harus dipertanggungjawabkan," tutur Julidia.
Sementara itu, ayah korban KN bernama Rolando mengaku mengetahui anaknya menjadi korban penganiayaan pada hari yang sama kejadian. Dia langsung bergegas ke kampus usai menerima pesan singkat dari sang anak.
Sesampainya di kampus, Rolando mendapati anaknya dalam kondisi dikepung oleh sejumlah mahasiswa. Saat ditanya mengenai alasan pemukulan, para pelaku beralasan korban bermain ponsel di dalam kelas.
"Tapi kalau dia bermain HP kan bisa ditegur baik-baik, jangan main pukul. Kenapa dipukul terus kasihan? Sampai ditelanjangi, sampai dipukul dia punya pipi, ditendang dia punya perut, dan disulut juga dengan rokok," ujar Rolando.
Tak terima dengan perlakuan tidak manusiawi yang menimpa anaknya, Rolanda membawa kasus ini ke jalur hukum. Bukti visum juga telah diserahkan kepada penyidik kepolisian.
Diketahui, kasus kekerasan itu terjadi di lingkungan kampus Untad Palu pada Selasa (6/10). Perkara bermula saat ketiga mahasiswa itu ditegur dosen berinisial FJ karena bermain handphone (HP) saat perkuliahan berlangsung.
"Teguran tersebut dilakukan beberapa kali, namun tidak diindahkan. Pada akhir perkuliahan, FJ kemudian memberikan peringatan kepada mahasiswa yang bersangkutan. Dalam situasi tersebut, FJ disebut sempat menangis akibat kondisi yang terjadi selama perkuliahan," kata Dekan Fakultas Teknis Untad Andi Arham dalam keterangannya, Rabu (7/10).
Arham menuturkan peristiwa itu diketahui sejumlah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA). Dosen FJ kemudian mendapat kabar dari ketua himpunan bahwa mahasiswa yang ditegur saat perkuliahan menjadi korban pemukulan oleh mahasiswa lainnya.
"FJ menegaskan dirinya tidak pernah meminta, mengarahkan, maupun menginstruksikan mahasiswa lain melakukan kekerasan terhadap mahasiswa tersebut. Menurut klarifikasinya, tindakan tersebut terjadi tanpa sepengetahuan dan tanpa instruksi darinya," beber Arham.
Simak Video "Menikmati Sauna Tradisional Kayu Putih dan Relaksasi di Palu "
(sar/asm)