Terungkap Korban Pelanggaran HAM Berat Paniai Ditembak-Ditusuk Sangkur

Sidang Pelanggaran HAM Berat Paniai

Terungkap Korban Pelanggaran HAM Berat Paniai Ditembak-Ditusuk Sangkur

Tim detikSulsel - detikSulsel
Kamis, 29 Sep 2022 07:00 WIB
Brigadir Andi Richo Amir saat menjadi saksi di sidang kasus pelanggaran HAM berat Paniai di PN Makassar.
Foto: Xenos Zulyunico Ginting/detikSulsel
Makassar -

Oknum anggota Koramil 1705-02/Enarotali terungkap menembak dan menusuk warga sipil dengan sangkur saat tragedi Paniai berdarah pada Senin, 8 Desember 2014. Fakta-fakta tersebut terkuak dalam sidang lanjutan kasus pelanggaran HAM berat Paniai, Papua di Pengadilan Negeri (PN) Makassar.

Fakta penembakan dan penusukan terhadap korban dengan sangkur itu terkuak saat tim jaksa penuntut umum menghadirkan mantan Danton Dalmas Polres Paniai Bripka Riddo Bagaray dan Brigadir Andi Richo Amir sebagai saksi di PN Makassar, Rabu (28/9). Sidang ini dimulai dari kesaksian Brigadir Richo yang mengungkap bahwa sekitar 100 warga menggeruduk kantor Koramil 1705-02/Enarotali.

Brigadir Richo menjelaskan bahwa dia berada di halaman Kantor Koramil saat kejadian karena saat itu dia sedang bertugas sebagai sopir salah seorang pejabat. Richo mengatakan dirinya sedang dinas di luar.

"Yang pertama saya sebagai anggota Polri saya berada di dalam situ (Koramil) karena pada saat itu saya dinas luar, saya sebagai ajudan Asisten I Kabupaten Paniai," ucap Richo.


"Saya sebagai sopir, jadi saya punya mobil dinas diparkir di dalam halaman Koramil. Pada saat itu saya bertugas memanaskan mobil untuk persiapan ke kantor," sambungnya.

Richo mengatakan upayanya untuk keluar dari Kantor Koramil terhalang oleh kelompok masyarakat yang berusaha masuk. Pagar kantor Koramil yang saat itu terbuka akhirnya dikunci oleh anggota TNI.

Kondisi di Depan Koramil Memanas

Menurut Richo, kelompok masyarakat yang berkumpul di depan Kantor Koramil itu menuntut agar anggota TNI bertanggung jawab dengan kejadian pada Minggu (7/12/2014) malam. Dalam dakwaan jaksa pada sidang sebelumnya diketahui bahwa warga melakukan unjuk rasa untuk menuntut oknum TNI bertanggung jawab terkait dugaan penganiayaan terhadap warga sipil pada Minggu, 7 Desember 2014 malam.

"Mereka sambil teriak sambil melempar. Mukanya dilumuri dengan lumut sambil berteriak tanggung jawab. Kami masyarakat minta tanggung jawab dari tentara," ujar Brigadir Richo menjelaskan tuntutan masyarakat.

Sejumlah anggota TNI akhirnya meminta izin ke terdakwa Mayor Purnawirawan Isak Sattu untuk segera mengusir masyarakat secara cepat. Namun Mayor Isak disebut meminta anggotanya menahan diri karena dia akan meminta petunjuk pimpinan di Nabire.

"Dia (terdakwa Isak Sattu) mengatakan kembali kalau bisa tahan dulu sambil saya telepon pimpinan di Nabire, Dandim dengan senior," kata Richo.

Richo mengaku melihat terdakwa menelepon seseorang. Sementara di lain sisi, sejumlah anggota Koramil masuk ke dalam gudang dan membawa keluar senjata dan meminta izin untuk menembak.

"Anggota masuk ke dalam kantor ambil senpi senjata jadi di dalam situ, izin komandan kita pakai senjata saja," tutur Richo.

Richo menegaskan bahwa terdakwa sempat melarang anggotanya untuk melakukan penembakan. Namun anggota Isak Sattu menegaskan menunggu perintah.

Simak di halaman berikutnya Satu Warga Kena Tembak..