Penyaluran rumah susun (rusun) subsidi baru 24 Unit hingga 19 Oktober 2026. Padahal, saat ini sudah ada 2.038 unit rusun subsidi yang ready stock alias siap huni.
Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) Heru Pudyo Nugroho mengatakan kendalanya ada berbagai macam hal, salah satunya preferensi masyarakat.
"Preferensi, misalkan, ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Luasan, maupun harga, kan itu perlu pertimbangan juga dari konsumen ya. Konsumen sekarang makin kritis," ujarnya kepada wartawan di Wisma Mandiri, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Alasan lainnya adalah banyak masyarakat yang belum mendapat informasi bahwa rumah susun juga ada yang disubsidi. Maka dari itu, BP Tapera semakin gencar untuk mensosialisasikan rusun subsidi.
"Karena beberapa kali kita sosialisasi, ternyata kita tanyakan ke teman-teman banyak yang belum tahu bahwa ada fasilitasi rusun. (Berarti ada masalah di pemasaran BP Tapera?) Makanya kita lakukan progresif marketing, kolaborasi sama bank penyalur, sama developernya juga," tutur Heru.
Untuk menggenjot penjualan rusun subsidi, sudah ada sejumlah hal yang dilakukan oleh BP Tapera seperti tenor KPR rusun yang bisa diakses hingga 40 tahun. Selanjutnya, mengusulkan rusun subsidi 45 meter persegi mendapat insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) karena PPN DTP hanya bisa dimanfaatkan bagi pembeli rumah tapak dan rusun yang ukuran unitnya paling besar 36 meter persegi dengan harga jual Rp 250 jutaan ke bawah.
"Saya sudah bersurat bersurat ke Menteri Keuangan dan sudah dua kali dirapatkan dan itu sudah bisa dijalankan," ujar Heru.
Di sisi lain, saat ini penyaluran fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) per 19 Oktober 2026 sudah 184.342 unit dari total target 350.000 unit untuk tahun 2026 atau 52,67 persen. Untuk menggenjot pencapaian FLPP, bos-bos BP Tapera turun lapangan untuk membantu melakukan sosialisasi, bersama dengan para pengembang dan perbankan.
Deputi Komisioner Bidang Pemanfaatan Dana BP Tapera Sid Herdi Kusuma mengatakan, untuk saat ini terdapat potensi demand sebanyak 39.830 unit. Rinciannya, yang lolos subsidi checking ada 16.001 unit, proses analisa kredit ada 6.056 unit, proses Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit (SP3K) 2.604 unit, proses trilogi ada 10.279 unit, dan akad kredit 4.890 unit.
"Itu artinya sudah ada 39 ribu hampir 40 ribu aplikasi calon debitur yang sudah masuk ke sistem dan mereka dalam stage berbeda-beda. Ada yang sudah dinyatakan lolos subsidi checking, berikutnya mereka akan masuk ke proses pemberkasan dan analisa bank. Kemudian nanti keluar SP3K dari perbankan, artinya sudah disetujui, nanti menunggu proses trilogi," jelas Sid kepada wartawan.
Proses trilogi itu merupakan proses pengecekan rumah subsidi yang dibeli sudah siap. Ini dilakukan oleh pihak perbankan, calon debitur, dan developer.
"Jadi nanti dengan tagging, koordinat tagging, mereka harus mengirimkan foto-foto yang memperlihatkan bahwa rumah tersebut sudah jadi," kata Sid.
(abr/das)