Penjualan Rumah Subsidi Merosot Tajam, Lebih Parah dari Pandemi

Penjualan Rumah Subsidi Merosot Tajam, Lebih Parah dari Pandemi

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Minggu, 04 Okt 2026 09:05 WIB
Warga beraktivitas di kawasan perumahan Desa Muktiwari, Kabupaten Bekasi, Selasa (30/6/2026). Pemerintah menyetujui perpanjangan tenor KPR FLPP hingga 40 tahun untuk memperluas akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian yang layak dan terjangkau.
Ilustrasi rumah subsidi, Foto: Rifkianto Nugroho/detikFoto
Jakarta -

Tahun ini sektor rumah subsidi sedang mengalami tantangan besar. Ada beberapa pengembang mengaku penjualan menurun drastis, bahkan lebih parah dari masa Covid-19 dahulu.

"Ini kita pakai jawabannya orang lain saja. Kalau kata teman-teman yang lain ini lebih buruk dari Covid. Covid itu kita masih bisa tumbuh. Apalagi FLPP masih bisa tumbuh. Kalau ini benar-benar (sulit)," kata Ari Tri Priyono selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) kepada detikcom, Sabtu (3/10/2026).

Kondisi ini mengejutkan karena mereka menyangka akhir tahun ini penjualan bisa menyentuh lebih dari 200 ribu unit melalui skema KPR subsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Namun, penyerapannya masih sekitar 161.746 unit per 29 September 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengembang pusing harus melakukan apalagi untuk mendorong masyarakat membeli properti. Berdasarkan pengamatannya, penyebab penjualan landai tahun ini dikarenakan faktor daya beli.

ADVERTISEMENT

"Kalau kami diskusi di pengembang, masalah kita itu bukan di supply. Kita bisa bangun berapa saja gitu, yang penting buat kita malah demand-nya. Jadi yang masalah justru pembelinya," tuturnya.

Ia melihat anak muda zaman sekarang semakin sedikit yang bercita-cita memiliki rumah cepat-cepat. Mereka lebih memilih mengalokasikan uang untuk kebutuhan sehari-hari atau berlibur.

Sebagian yang lain ada yang terhalang utang atau pinjaman online yang tercatatat di SLIK OJK sehingga pengajuan KPR tersendat. Meskipun sudah ada relaksasi dari OJK di mana tunggakan di bawah Rp 1 juta tidak lagi jadi penghalang, ternyata belum cukup untuk menggenjot jumlah penjualan properti.

"Walaupun ya kemarin kan OJK sudah memberikan semacam relaksasi dengan SLIK yang di bawah Rp 1 juta, itu tidak tampil. Cuma itu juga rasanya bank juga takut untuk melaksanakannya. Jadi bank sikapnya tetap sama walaupun dia tidak menentang (keputusan OJK) itu, tapi kita tidak melihat ada pergerakan signifikan dari sebelum ada kebijakan itu dengan setelahnya," ungkapnya.

Lalu, beli rumah bebas pajak sudah diterapkan untuk pembelian hingga Rp 2 miliar. Jumlah pajak yang dibebaskan 100 persen. Berlaku dari awal tahun dan akan diperpanjang hingga Desember 2027. Namun, minat masyarakat belum juga terdorong.

Di sisi lain, konsumen yang sudah mengambil KPR ternyata banyak yang menghentikan cicilan, mengalihkan kredit, hingga menjual rumahnya diam-diam saat angsuran berlangsung.

"Beberapa bank saya tanyakan apa banyak yang melakukan jual-beli apakah bawah tangan, atau penutupan KPR, mereka pindah ke bank lain yang lebih ini (bunga rendah). Ternyata data itu juga banyak," kata Ari.

Beberapa di antaranya karena tak kuat membayar. Ada juga yang beralasan ingin kembali ke kampung sehingga tidak mampu melanjutkan angsuran.

"Itu datanya juga banyak, baik yang (rumahnya) dijual sungguh-sungguh, jual bawah tangan, maupun jual dan kemudian dia beli yang lebih murah lagi gitu. Ini berarti ada data bahwa masyarakat yang sudah beli pun merasa berat mengangsur. Pengangsurannya lebih kecil atau bahkan dia pindah ke kampung," ungkapnya.

KPR subsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sudah disediakan oleh pemerintah untuk mempermudah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) membeli rumah. Bunga yang ditawarkan adalah tetap dari awal hingga akhir 5 persen. Sementara, untuk rumah susun (rusun) 6 persen. Harga rumahnya pun sudah di atur, paling mahal Rp 240 jutaan. Sementara untuk rusun mulai dari Rp 400 jutaan hingga Rp 1 miliar paling mahal.

Tenornya pun beragam, paling lama 40 tahun. BPHTB dan PBG juga sudah gratis. Kuota rumah subsidi yang disiapkan oleh pemerintah adalah 350 ribu. Pemerintah telah memberikan segala kemudahan.

Namun hal tersebut belum cukup menarik hati masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Ini membuat banyak pengembang pusing, mencari berbagai cara untuk mendorong penjualan meningkat.

"Semuanya pusing ini karena penjualan turun semua. Saya pikir tahun lalu masih bisa 27.000-28.000 (kuota FLPP terserap). Mestinya di bulan Oktober gini sudah di atas itu, jadi parah banget gitu. Nah ini dari sisi demandnya," kata Ari.

(aqi/das)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads