×
Ad

China Mau Bangun Rusun di RI, Begini Dampaknya ke Sektor Properti

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Jumat, 18 Sep 2026 07:32 WIB
Ilustrasi rusun. Foto: Muhammad Firman Maulana
Jakarta -

Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah menggaet China untuk membangun rumah susun (rusun) di Indonesia. Kabarnya pemerintah China akan memberikan beberapa calon investor dari negaranya yang akan ikut serta dalam proyek ini.

Proyek ini membawa angin segar untuk Indonesia karena akhirnya ada modal asing baru yang bakal masuk ke sektor properti. Menurut Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) kesempatan ini akan membuka lapangan pekerjaan yang besar, mengingat properti adalah sektor padat karya.

Selain dua hal baik tersebut, dampak apa lagi yang bakal dirasakan Indonesia jika proyek bersama China ini benar-benar berjalan?

Menurut Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto masuknya China sebagai investor asing bisa membantu pemerintah dalam hal pembiayaan. Lalu, adanya kepastian pembangunan dan percepatan karena investor pasti menginginkan proyek tersebut berhasil setelah mengeluarkan uang besar. Selain itu yang terpenting adalah adanya peluang terjadinya pertukaran teknologi (transfer knowledge) ke kontraktor maupun pengembang lokal.

"Jadi kehadiran investor asing ini juga dapat mendorong pemain lokal untuk lebih bisa meningkatkan produktivitasnya, termasuk juga menjaga kualitas bangunan dan efisiensi proyek," kata Ferry saat dihubungi detikcom pada Kamis (17/9/2026).

Ia melihat kerja sama ini sebagai langkah yang baik. China sebenarnya sudah cukup lama masuk ke pasar properti dan konstruksi di Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya karena digandeng oleh pengembang lokal. Namun, rata-rata proyek hunian yang diambil China di Indonesia jarang sekali mereka sebagai pengembang yang langsung menyasar pasar konsumen Indonesia. Dalam kata lain, pengembang utama tetap dari pihak lokal.

Dengan begitu, masuknya China dalam proyek ini juga tidak akan menjadi pesaing. Kontribusi pengembang lokal di sektor hunian lebih besar dari jumlah proyek yang dilakukan perusahaan asing di RI.

"Kerja sama pembangunan rusun ini, belum tentu secara otomatis menjadikan perusahaan China sebagai pesaing langsung pengembang lokal," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh pengamat properti sekaligus Direktur PT Global Asset Management Steve Sudijanto yang merasa investasi ini merupakan hal yang positif. Namun, perlu digarisbawahi selama pelaku industri yang dilibatkan dalam proyek rusun ini minimal 70 persen adalah lokal.

Selain itu, besarnya dampak dari kerja sama ini juga dilihat dari dana investasi yang dibawa. Menurutnya untuk membangun rusun minimal China harus membawa US$ 500 juta atau setara Rp 8,8 triliun (kurs Rp 17.751).




(aqi/zlf)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork