Ketika pengembang hendak menjual hunian sebelum proyek pembangunan selesai, calon konsumen akan dijanjikan waktu serah terima. Dengan begitu, konsumen jadi yakin untuk membeli dan bisa mengetahui kapan mereka bisa menempati unit tersebut.
Namun, tidak sedikit proyek yang terlambat selesai atau molor dari janji yang disebut di kontrak. Terkadang waktu mundurnya cukup lama, ada yang sampai satu tahun lebih dan alasannya tidak jelas.
detikers, jika rumah yang kamu beli mengalami hal ini, harus segera ditanyakan alasan dan masalahnya. Sebab keterlambatan pembangunan dan serah terima unit itu bisa jadi sinyal buruk bahwa proyek tersebut bermasalah.
"Ciri-ciri pembangunan gedung bermasalah itu terjadi keterlambatan," kata pengamat properti sekaligus Direktur Global Asset Management Steve Sudijanto, kepada detikcom pada Selasa (28/7/2026).
Kemudian, jika keterlambatan sudah lebih dari satu tahun dan jadwal penyelesaian proyek terus diundur. Selain itu, beberapa kali tidak terlihat ada pembangunan di lokasi proyek, itu adalah tanda keuangan perusahaan sedang bermasalah.
"Biasanya targetnya 3 tahun, terlambat 1 tahun ya itu masih lumayan. Tapi kalau terlambat sampai 2 tahun itu ciri-ciri kondisi keuangannya sudah tidak sehat," ujarnya.
Untuk memastikan lagi, konsumen bisa datang ke lokasi pembangunan secara berkala dan mengecek apakah ada tukang, material yang datang, dan perubahan dari hari ke hari. Jika di lokasi kosong tidak ada aktivitas, sudah pasti pembangunan berhenti.
Kejadian seperti ini bisa terjadi pada proyek apa saja, baik yang dikerjakan oleh swasta maupun pemerintah sekali pun.
Salah satu contohnya adalah Apartemen LRT City yang dibangun oleh PT Adhi Commuter Properti Tbk. (ADCP), anak usaha PT Adhi Karya Tbk., perusahaan BUMN. Dari 12 proyek apartemen yang dibangun, hanya Apartemen LRT City di Jatibening, Sentul, dan Bekasi yang selesai. Sisanya ada yang belum dibangun dan ada pula yang mandek pengerjaannya meskipun bangunan fisik sudah selesai sehingga serah terima telat hingga bertahun-tahun.
Setelah dimintai kejelasan, ADCP mengaku keuangan perusahaannya sekarat dan tidak bisa melanjutkan proyek, maupun mengembalikan dana (refund). Saat ini mereka tengah mencari investor dari China dan lokal untuk melanjutkan pembangunan.
"Ya ada beberapa sih (investor). Ada yang dari China, Indonesia. (Itu sudah deal untuk investasi?) Belum. Masih tahap inisiasi, masih di MoU. (Selain investor China?) Ada dari lokal sih. Ada 2 ya. Jadi baru ada sekitar 3-4 ya," kata Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) Indra Syahruzza dalam pertemuan mediasi dengan konsumen di Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), di Wisma Mandiri II, Jakarta pada Jumat (24/7/2026).
(aqi/das)