Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran membuat sektor properti di AS terkena imbasnya. Kini, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) di AS melonjak.
Dilansir dari CNBC, menurut laporan Mortgage News Daily, sehari sebelum konflik terjadi, rata-rata suku bunga flat KPR untuk tenor 30 tahun 5,99 persen. Kini nyaris tembus 6,5 persen.
Saat suku bunga naik minggu lalu, permohonan KPR turun 5 persen dari minggu sebelumnya, menurut Asosiasi Bankir Hipotek atau Mortgage Bankers Association (MBA).
Di sisi lain, Zillow memperkirakan penjualan rumah eksisting naik 4,3 persen dibandingkan tahun lalu.
"Meskipun tentu saja itu bukan pasar yang kuat, itu akan mewakili pasar yang telah berbalik arah, dengan tahun 2026 bertindak sebagai tahun 'penyesuaian ulang'. Namun, ketidakpastian baru telah muncul melalui harga energi dan kekhawatiran inflasi, menambah kompleksitas baru pada prospek kami," tulis laporan Kepala Ekonom Zillow, Mischa Fisher, dikutip dari CNBC.
Fisher memperkirakan, naiknya suku bunga KPR dan potensi meningkatnya pengangguran karena turunnya daya beli akibat harga barang yang tinggi, kalau kejadian itu terus berlanjut hingga akhir April maka penjualan rumah tahun ini masih akan naik 3,48 persen dibandingkan tahun lalu.
Akan tetapi, kalau kondisi tersebut berlanjut hingga 1 Juli, kenaikan penjualan rumah tahun ini naik menjadi 2,33 persen dibanding tahun lalu. Kalau berlanjut hingga 1 September, kenaikan penjualan rumah menjadi 1,21 persen dibanding tahun lalu. Memang masih akan naik, tapi persentasenya semakin menurun apabila perang terjadi dalam waktu yang cukup lama. Lalu, jika suku bunga hipotek tetap 50 basis poin lebih tinggi dari jalur semula dan pengangguran juga naik 20 bps untuk sisa tahun 2026, Fisher memperkirakan penurunan sebesar 0,73 persen.
Dampak di sektor properti juga sudah terasa di pasar konstruksi baru. Kepala KB Home, Jeff Mezger, mengatakan, konflik di Timur Tengah ini menambah ketidakpastian bagi calon konsumen yang dalam dua tahun belakangan sudah menghadapi tantangan.
Para pengembang saat ini memiliki banyak pasokan rumah untuk dijual, dan persediaan rumah eksisting juga meningkat.
Pembatalan pembelian rumah juga mengalami peningkatan tahun ini yaitu sebanyak 1 dari 7 rumah atau 13,7 persen dari rumah yang sudah disepakati dalam kontrak pada bulan Februari, dibatalkan, naik 12,8 persen daripada tahun sebelumnya. Menurut catatan Redfin, jumlah penjual rumah ada lebih dari 600.000 dibandingkan pembeli, membuat calon pembeli memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Ini merupakan kesenjangan yang hampir mencapai rekor meskipun sangat bervariasi di tiap daerah.
(abr/das)